7/13/2007

Surat Buat Isteriku (4)

Dongeng Sebelum Tidurmu

Ini cerita tentang rindu. Ketika angin seolah mati dan cakrawala hanya menampakkan wajah kusam. Kicau burung telah berhenti, dan geliat ombak sudah surut sejak tadi.

(kau bilang: emang kapan anginnya hidup, kok dibilang angin mati?
aku jawab: 'kan aku bilang seolah, padahal sih enggak. angin itu sering diasosiasikan sebagai pembawa kabar. makanya ada istilah kabar angin. Kalau nggak ada angin, berarti nggak ada kabar.
kau bilang lagi: ombaknya bangun tidur? kok menggeliat-geliat?
aku jawab: ombaknya beranak dalam kubur! ini mau diceritain nggak? kalo protes mulu, ngarang aja cerita ndiri.
kau bilang:...
eh, nggak ding. kau nggak bilang apa-apa lagi, tapi cuma cengengesan...jadi aku lanjutin lagi dongengnya)


Di hutan itu tidak ada anggukan mawar dari semak-semak yang mengurung sepi. Apalagi pekik satwa hutan menjelang pergantian hari. Daun-daun jati sedang berguguran. Tidak, bukan mau mati, tapi karena pohon-pohon jati itu sedang membantu daun-daun pulang menjumpai ibunda pertiwi. Ya, daun itu melambai turun, helai demi helai karena bumi memanggilnya pulang. Karena rahim ibunda pertiwi sedang menyiapkan kesuburan, merindukan kesuburan.

Dahan-dahan jati melepas kepergian daun-daun itu tanpa keluhan. Tanpa suara tangisan. Semua terjadi tanpa ada yang menyadari, seolah terjadi begitu saja. Padahal, seperti semua perpisahan: selalu ada ruang kosong yang ditinggalkan dan dahan-dahan jati itu ikhlas memilih dirinya sendiri yang menderita karena ditinggalkan. Karena dahan-dahan itu sadar bahwa semua demi kesuburan bumi tempatnya berdiri. Biarlah mereka pergi menemui ibundanya, karena kelak mereka kembali dalam diriku, begitu mungkin suara dahan-dahan. Sebuah prosesi kuno yang telah berlangsung sepanjang usia alam.

Ia telusuri jalan setapak di pinggir hutan itu. Semestinya jalan itu berada di tep sungai kecil yang mengalir. Tapi ini kemarau, maka sungai itu tinggal sebuah cekungan berisi batu dan debu. Memang ada genangan, tapi tak cukup banyak untuk bisa disebut air yang mengalir. Di jalan itulah ia melangkah perlahan, seolah bimbang pada arah yang dituju. Tapi dia tahu, jalan itu memang akan berakhir di sebuah sungai lain dan ia akan menelusuri jalan setapak di tepi sungai itu nantinya. Entah ke mana, barangkali ke hutan yang lain lagi, atau malah ke lautan.

Hari mulai gelap dan hawa kemarau berubah dengan cepat. Dingin. Kehangatan mulai melambai-lambai seperti selendang di angan-angan ketika udara merangkul pundaknya. Mencengkeram leher hingga ia mulai menggigil. Tapi ia tak peduli udara dingin. Ia tetap melangkah perlahan. Karena ia yakin setiap tikaman udara dingin akan membuat rindunya makin subur.

Ya, dia sedang merindukan kekasihnya dan setiap pemandangan guguran daun jati akan memupuk perasaannya itu, membuatnya teringat pada seseorang yang telah ia titipkan hatinya, seperti pohon jati menitipkan daun-daunnya pada bumi. Maka dia tetap melangkah perlahan, diantara debu dan batu yang terasa dingin saat kaki menyentuh. Dua tahun bukan waktu singkat untuk merajut harapan, tapi itulah yang sekarang ia kenakan: Rajutan kelabu dan penuh debu. Lusuh. Hanya berhiaskan kenangan pada samar wajah seseorang. Wahai penguasa hutan, tidak adakah binar mata dari seseorang yang sedang ia cari? Bintang-bintang hanya menawarkan kesenangan sesaat dan mereka terlalu jauh untuk disapa.
"Kau lihat bintang itu, Kekasih?"
Ah, adakah yang lebih mampu membuat hati bergetar, selain berjalan sendiri di antara belukar dan memanggil seseorang tanpa sadar?

Masih diterjemahkannya sepi itu sebagai beban rindu yang memberat di pundak. Pundak yang begitu ringkih dan butuh sandaran kuat dan kokoh. Masih di...

Lho...kok. Ney?...dah tidur ya? Honey..., Honey...!
Ughhh.... tadi minta diceritain, kok malah tidur? pasti besok minta diulang dari awal lagi deh. Gak mau ah. Pokoknya kalau besok mau tidur, minta ditemani Joan Baez aja ya, biar dia nyanyi DonnaDonnanya sampe jontor dan kamu tertidur...Tapi, "Met bobo', honey..., mimpiin aku ya!"

7/06/2007

Surat Buat Isteriku (3)

dulu sebelum menikah,
aku berharap istriku seperti khadijah:
melindungi suaminya kala gemetar ketakutan
dengan hangat selimut kasih
dan dekapan sayang keibuan.

atau seperti Siti Hajar:
meski sendiri ditinggal di gurun kesepian
tapi selalu merajut kesetiaan
dan teguh memegang janji.

atau fatimah az-zahra:
tabah menjalani hari-hari dalam kesederhanaan
meski hanya tinggal di rumah kecil
berhiaskan prihatin semata

tapi ternyata,
akupun bukan muhammad Rasulullah
yang kata-katanya senantiasa dapat dipercaya.
atau Ibrahim yang hanif,
dan teguh berdiri menjaga iman,
atau Ali bin Abi Thalib yang perkasa
namun selalu santun pada sesama.

aku hanya suamimu yang masih mudah marah saat kejengkelan merusak hatinya
laki-laki yang akan berdiri sombong saat kau usik egonya
dan bocah balita yang dibungkus dalam tubuh orang dewasa:
manja, kekanak-kanakan, dan senantiasa tak mau kalah

sering aku jengkel ketika kau tak bisa melangkah secepat langkahku
padahal seharusnya akulah yang mendukungmu di jalan berbatu terjal
atau tiba-tiba keluar kata-kata kasar saat kau tak juga mengerti diriku
padahal seharusnya akulah yang membimbingmu dengan lemah lembu saat kau kesulitan

maka aku menerimamu apa adanya
sebagai istri yang tentu akan punya kekurangan,
namun menyimpan kelebihan-kelebihan yang aku sendiri tak pernah miliki.
aku menerimamu
sebagaimana kau menerimaku

inilah sungai deras
yang selalu mengalir mencari lautanmu

semoga kelak akan terbaca
bahwa perjalanan kita tulus menuju pada sang pencipta
mengikuti irama dalam syariatNya
dan berada dalam surga abadiNya.

6/07/2007

Arisan Keluarga

Minggu lalu kami jadi tuan rumah arisan. Bukan arisan RT atau RW atau kompleks perumahan, melainkan arisan keluarga. Namun dengan pertimbangan lokasi yang lebih mudah dijangkau, maka tempat pertemuan diputuskan untuk diadakan di rumah ibuku. Pertemuan dua bulanan untuk keluarga dari pihak ibuku itu biasanya dihadiri sekitar 50 - 75 orang. Memang jumlah yang hadir bervariasi, sebab ada saja yang berhalangan.

Sejak dua bulan sebelum tanggal pertemuan, istriku sudah mewanti-wanti agar aku menyisihkan uang dan waktu untuk acara ini. Bahkan dia sudah membuat rencana tentang menu yang akan disajikan nantinya. Bayangin, dua bulan sebelum acara!

Karena tempat arisan di rumah ibuku, maka sebagian makanan akan dimasak di sana. Tentu saja istriku tetap memasak suguhan di rumah kami dan akan di bawa ke sana, antara lain ayam yang akan dibakar, tempe-tahu bacem, cake tape, pie dengan kiwi yang mempercantik penampilan di atasnya (nulisnya bener nggak ya? istriku sih ngomongnya pai), serta martabak yang nantinya akan digoreng di rumah ibuku. Tidak lupa istriku juga membawa blewah, syrup nanas, serta meinuman bersoda sebagai sajian minuman. Cukup? belum dong. Ibuku juga menyajikan nagasari (yang namanya aja keren, padahal cuma pisang diselimuti adonan tepung dan dibungkus daun pisang sebelum dikukus), sayur sop, kerupuk udang, sambal, serta lalapan.

Persoalan makanan sebenarnya bukan masalah besar, sebab biasanya, famili-famili lain yang akan hadir juga membawakan makanan, setidaknya kue. Dan kemudian memang terbukti, sebab ada yang membawa klepon, kue pukis, bakwan, serta kue-kue lain. Juga tak ketinggalan buah-buahan. Karena hal ini, istriku merasa tak enak hati, serta menyalahkan aku. Lho...? Iya, sebab kalau sedang arisan di tempat keluarga yang lain, istriku selalu betanya, "Apa kita perlu bawa-bawa?" (maksudnya bawa makanan gitu).

Satu hal yang aku khawatirkan adalah kondisi kesehatan istriku. Iya, istriku memang sensitif maagnya. Sedikit saja ada beban pikiran, maka sakit maagnya akan kambuh. Karena itu, aku selalu mengingatkan agar istriku tak terlalu mengkhawatirkan acara itu. Iya, soalnya kalau terlalu mencemaskan sesuatu, istriku suka lupa makan. Akibatnya maagnya akan sakit. Memang sih, segala sesuatu harus direncanakan agar berjalan lancar, tapi kalau rencana sudha dibuat, kan tinggal menjalankan saja, nggak usah dipikirin berulang kali. Tapi karena dasarnya istriku itu orang yang sangat baik, maka dia khawatir sekali kalau mengecewakan orang akibat acara tidak berjalan lancar.

Sehari sebelum acara berlangsung, kami berdua berangkat ke rumah ibuku, lengkap dengan segala perabotan lenong seperti wajan teflon serta bahan-bahan makanan yang akan dihidangkan nantinya. Tentu saja kami harus menginap, sebab tak mungkin persiapan dilakukan pas hari H saja. Setibanya di rumah ibuku, persiapan makanan sudah mulai dilakukan. Ibuku sedang membuat nagasari. Rencananya, pagi-pagi sekali, sebelum subuh, istriku akan membuat pai. Pai ini pekerjaannya njlimet, sebab harus membuat fla untuk isi dasarnya, meletakkan kiwi sebagai pengganti strawberi, lalu dilapisi cairan agar-agar sebagai pengikat. Setelah itu membuat adonan untuk isi martabak, membungkusnya dengan adonan kulitnya (beli di pasar BSD seharga limaratus perak), dan menggorengnya satu per satu.

Jam delapan aku mulai membakar arang untuk memanggang ayam (acara dimulai jam duabelas). Keluarga dekat seperti kakakku dan bulik Supar datang lebih cepat dari tamu-tamu lainnya. Tak lama kemudian, segeralah rutinitas saat kumpul keluarga terjadi. Anak-anak berlari ke sana kemari, ibu-ibu asyik menyiapkan hidangan sambil ngerumpi, serta bapak-bapak ngobrol di ruag tengah, teras depan, serta teras samping. Pendeknya, ini ajang reuni keluarga. Jadi kalau ada yang beranggapan arisan itu lebih banyak mudaratnya, maka itu tak bisa dipkul rata. Nyatanya, kegiatan arisan keluarga bisa mendekatkan lagi hubungan persaudaraan sesama keluarga besar. Lagipula, kata nabi, silaturahim itu memperluas rejeki. Alhamdulillah acara berjalan lancar. Tinggal cuci piring aja yang menumpuk.

Selain karena bertemu keluarga besar, aku juga sangat senang karena penyakit kambuhan isteriku tidak menyerang. Sore itu juga kami pulang ke Serpong. Selesai? Belum dong. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, sekitar jam dua pagi, istriku mengerang sambil memegang perutnya. Rupanya maagnya kambuh. Obat yang biasanya manjur (buatan dewa ya?) ternyata tak berdaya menghadapi penyakit ini. Tiga kali istriku harus (maaf) muntah karena rasa mual. Maka aku pun tak berani tidur nyenyak. Kugenggam tangannya sambil berdoa agar penyakit istriku segera diangkat dan istriku diberi kekuatan menghadapinya. Dalam hati aku masih bersyukur karena penyakit itu tidak datang pada saat acara arisan berlangsung. Tidak terbayang kalau itu yang terjadi, sebab jangankan untuk masak berbagai kue dan makanan lainnya, untuk berdiri saja harus hati-hati agar tidak jatuh.

Saat aku berangkat kerja, kuminta istriku tak usah melakukan apa-apa dulu, termasuk masak atau membersihkan rumah. Sepulang kerja, tak lupa aku membeli bubur untuknya. Sungguh, melayani istri ternyata juga membahagiakan bagi seorang suami, tidak melulu hanya ketika dilayani oleh istri....

Allahu'alam.

3/22/2007

Akhir Pekan (Luar) Biasa

Hari Sabtu setiap akhir pekan, aku biasanya membuat rencana untuk menghabiskan waktu bersama istriku. Di pagi hari, mulai jam 06.30, kami pergi ke Taman Kota untuk jogging. Memang agak ramai di akhir pekan. Tapi kami cukup terhibur karena biasanya banyak anak-anak kecil yang bermain dengan tingkah polah mereka yang kadang membuat kami tertawa, atau gemas melihat bayi-bayi yang berada di kereta dorongnya atau di pangkuan orangtuanya. Maklum saja, kami memang belum punya momongan. Yah... dinikmati saja keberduaan ini.

foto Taman Kota, diambil dari sini.

Kalau tidak ke Taman Kota, kami akan berjalan-jalan ke daerah di sekitar perumahan. Yang paling aku senangi tentu saja berjalan-jalan di kampung-kampung sekitar. Senang karena bisa bertemu dengan penduduk asli daerah ini. Suasananya sangat asri, karena pohon-pohon besar masih banyak tumbuh di sini. Kadang membeli buah-buahan atau sayur yang harganya tentu saja lebih murah dibandingkan harga di Pasar Modern BSD. Rute yang kami lewati biasanya selalu melintasi Stasiun kereta atau perlintasan rel kereta api. Aku memang penggemar kereta api sejak kecil, dan hingga setua ini, aku masih sangat kagum saat melihat lokomotif melintas di atas relnya. Tampak gagah dan perkasa.

foto Pasar Modern BSD, diambil dari sini
Selesai berjalan-jalan atau jogging, kami akan mampir di pasar. Sebelum belanja, kami akan sarapan bubur ayam atau soto. Murah meriah. Setelah itu, barulah menyusuri lorong-lorong pasar. Lorong / los favoritku adalah los ikan. Ya, karena di sana aku akan menjumpai bermacam ikan yang namanya selalu saja tak bisa kuingat dengan baik. Luar biasa melihat keanekaragaman ikan yang disediakan Allah untuk kita. Di pasar ini saja, baru sebahagian kecil saja, tapi selalu membuatku takjub. Apalagi saat melihat bayi ikan hiu yang ukuran panjangnya paling-paling baru satu meter saja. Kadang aku mampir ke kios penjual majalah/koran. Kalau ada yang menarik, langsung beli. Sebelum pulang, tak lupa membeli sekadar oleh-oleh buat orang rumah. Biasanya kue pukis, atau buah-buahan. Seperti juga berangkatnya, maka pulang pun aku berjalan kaki saja. Bahkan saat membeli beras satu karung, kami akan minta tolong pada tukang ojek untuk mengantarkan beras tadi ke rumah. Sedangkan kami, ya tetap jalan kaki saja.

foto Pasar Modern BSD, diambil dari sini


Tiba di rumah, biasanya sudah sekitar pukul 09.30. Aku akan langsung tergeletak di depan televisi. Niatnya sih, santai sambil nonton tv, tapi yang biasanya terjadi adalah aku yang ditonton tv, alias ketiduran. Hehehe... Nanti setelah pukul 10.00, istriku akan mengambil alih kendali tv untuk menonton Oprah Winfrey Show yang di Indonesia memang diputar di jam tersebut. Biasanya itu dilakukan sambil mengolah bahan makanan sebelum dimasak. Setelah acara itu selesai, ia akan masak dan aku tetap di alam mimpi.

Siang harinya, setelah mandi, dzuhur [-O<, dan makan siang, aktifitas kami biasanya tak akan jauh dari tiga hal: baca buku, nonton DVD sewaan, atau bobo siang. (hehehe... yang belum punya pasangan jangan iri ya...). Tapi kalau istriku punya PR, ia akan mengerjakan PR itu dan aku akan membantu sebisanya. Nah, nanti jam 16.00, istriku akan berangkat mengajar ngaji di komplek perumahan sebelah, sedangkan aku akan nonton siaran langsung sepak bola di tv, atau membaca buku, atau... meneruskan tidur.

Malam harinya, malam minggu, kami akan pacaran di taman jajan. Sesuai namanya, tempat ini memang tempat yang biasa dipakai orang untuk berjualan dan membeli jajanan. Luasnya sekitar 20 x 50 meter persegi.Ada berbagai macam jajanan yang bisa diperoleh di sini. Mulai Baso, ketoprak, aneka sate, aneka minuman, dan berbagai jajanan lainnya. Bagian tengahnya digunakan untuk lalu lintas pembeli. Kedai dan kios merapat ke dinding dan tidak ada sekat antara satu kedai dengan kedai lainnya.

Ada satu kios/kedai yang menjadi kegemaran kami berdua, yaitu Baso Solo. Itu untuk jenis makanan. Kalau minuman, setidaknya ada dua, yaitu Es Kelapa Muda (bisa dipilih, menggunakan gula pasir/putih atau gula jawa/merah) serta es doger. Harganya tidak mahal. Seporsi baso hanya Rp. 6.000 saja, sedangkan es kelapa muda hanya Rp. 2.000, sama sepeerti es doger.

Setelah tiba di rumah kembali, maka sisa malam akan kami habiskan dengan duduk-duduk di teras. Kadang ditemani kacang rebus, atau ubi goreng buatan istriku. Memang suasananya tidaklah seindah memandang langit penuh bintang di malam-malam cerah di tengah hutan atau puncak pegunungan. Tapi merasakan semilir angin sambil bicara atau bercengkrama berdua di teras rumah sudah mampu membuat kami bahagia.

Nah, itulah rutinitas yang sering kujalani setiap hari sabtu bersama istriku. Tentu saja sangat jauh dari kemewahan. Jadi jangan dibandingkan dengan malam minggu yang sering dijalani orang-orang berada. Ini hanya rutinitas biasa yang bisa kujalani dengan istriku. Segalanya begitu sederhana. Tak ada kemewahan ataupun fasilitas serba ada. Tapi kami bahagia.

Barangkali karena keberadan pasanganlah yang lebih utama. Kita, dan pasangan kita, akan merasa tenang dan bahagia saat berada dekat satu sama lain, walaupun hanya ada di tengah suasana yang sederhana dan apa adanya.

1/23/2007

Kebahagiaan Seorang Suami

Kapan saat paling membahagiakan sebagai seorang suami? Buatku, moment itu datang setiapkali sehabis shalat berjamaah, lalu istriku menyalami dan mencium tanganku dengan penuh perasaan. Entah apa yang ia rasakan, tapi jelas, ia sangat menghayati situasi itu.

Barangkali aku menjadi merasa sangat bahagia, kerena merasa bahwa istriku ternyata tulus menerimaku sebagai suaminya. Mungkin juga karena merasa yakin, betapa seorang istri yang bersedia mencium tangan suaminya, telah tulus ikhlas menyiapkan dirinya untuk berbakti kepada suaminya dengan penuh khidmat. Keyakinan ini memang bisa saja hanya perasaan semu atau sekadar GeeR saja. Tapi kemungkinan itu segera terhapus tatkala menjumpai senyum dan tatapan lembutnya yang penuh rasa. Cinta. Sayang. Ikhlas. Pengorbanan. Itulah kesan yang hinggap dalam dada. Memang tak banyak kata-kata yang terucap, karena suasana telah membuatku melayang, meskipun saat itu aku dan istriku masih berada di atas sajadah.

Rasulullah pernah mengatakan, bahwa "Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita shalihah." Mungkin statement Nabi ini bisa menjadi penjelasan, kenapa saat-saat sehabis shalat berjamaah berdua itu begitu membuai. Saat ketika diri ini begitu yakin akan kesetiaan istri untuk tetap menerima suaminya apa adanya, serta sikap yang menyatakan kesediannya untuk mengabdi dan berbakti sepenuh hatinya. Saat ketika hati ini begitu mantap mengatakan, bahwa dia adalah sebaik-baiknya perhiasan dunia.