Showing posts with label Belajar Menjadi Suami. Show all posts
Showing posts with label Belajar Menjadi Suami. Show all posts

11/05/2007

Just Another Sunday

Setidaknya satu kali dalam sebulan, aku dan istriku menjadwalkan untuk makan siang di luar. Menu bukan hal penting. Kadang cuma makan ketoprak atau makan soto mie bogor. Yang penting: bisa berduaan selama makan siang. Soalnya, di hari-hari lain, saya 'kan makan siang di kantor. Jadi istri saya agak-agak maksa untuk menyediakan waktu khusus buat makan siang di luar, setidaknya satu kali dalam sebulan. Begitu juga hari Minggu kemarin.

Setelah sempat balik lagi ke rumah karena titik air mulai turun dan kami lupa mengangkat jemuran (pak Satpam sempat ber"kuluk-kuluk" saat melihat kami balik kanan), kami berjalan kaki lagi menuju area Taman Jajan yang lokasinya nggak jauh dari rumah. Ada banyak pilihan menu di sana. Saat itu langit sudah gelap dan angin bertiup memberi kesejukkan. Aroma hujan mulai tercium di udara bercampur aroma aneka masakan dari stand-stand di Taman Jajan. Tampaknya hujan akan segera turun.

Betul juga. Ketika kami sedang asyik makan, hujan turun dengan deras. Melihat susunan awan (sok belagu jadi peramal cuaca kayak pakar BMG), sepertinya hujan akan berlangsung lama. Maka daripada kelamaan menunggu, selesai makan kami putuskan untuk pulang di tengah guyuran hujan. Payung yang hanya satu ternyata tak cukup melindungi tubuh kami secara utuh. Apalagi, di tengah perjalanan hujan mendadak semakin deras. Biarpun sudah memeluk bahu istri, tapi tetap saja tubuh kami terkena terpaan air.

Tiba di rumah, separuh tubuh kami basah. Waduh... Harus segera ganti pakaian dong, biar nggak masuk angin. Tapi, masa' siy, keujanan dikit aja udah masuk angin. Istriku juga dulu sering kehujanan saat naik gunung dan keluar masuk hutan. Apa iya tubuh kami seringkih itu? Mengenakan pakaian basah beberapa menit, pasti nggak akan berpengaruh banyak buat kesehatan tubuh kami.

Maka, selagi berganti pakaian, kami putuskan hal ini: hujan-hujanan di area open air yang ada di belakang rumah dan terlindungi tembok tinggi di sekelilingnya. Iya! Bersenang-senang berduaan di bawah siraman air hujan. Huehehe... Kenapa enggak? Di rumah cuma ada kami berdua. Soal masuk angin, bisa dicegah dengan bilasan air hangat nantinya. Asyiik, bisa melampiaskan kerinduan pada hujan-hujanan di masa kecil dulu. (apa kami cuma hujan-hujanan ajah? wah, itu siy, rahasia.... maaf, buat yang belom nikah atau sedang sendirian, jangan iri, ye.... ).

Jadi inget lagunya The Police:

Do I have to tell the story
Of a thousand rainy days since we first met
It's a big enough umbrella
But it's always me that ends up getting wet

8/14/2007

The Lake House

Meski istriku sudah berkali-kali menonton, aku belum pernah sekalipun menyaksikan The Lake House yang dibintangi Sandra Bullock dan Keanu Reeves. Maka dia senang sekali saat sabtu kemarin, aku memintanya memutar film itu dan menonton berdua saja.

Beberapa penggalan dialog terucap dari bibir istriku. Hm... berapa kali nonton sampe hafal gitu? Tapi dia cuek dan tetap asyik menonton. Beberapa kali pancinganku untuk bercerita selalu dijawabnya dengan ringan, "Liat sendiri aja, ntar nggak asyik kalau diceritain."
Setelah film itu selesai, aku malah penasaran dengan Lagu Tema film ini (teksnya ada di bawah). Ringan saja, tapi kayaknya memang asyik mengkhayal seperti yang terjadi di film itu.

Setelah seorang teman dengan baik hati mau sharing lagu itu via blognya, lagu itupun terpasang di HPnya. Sengaja aku nggak bilang-bilang kalau sudah mengcopykannya ke HP. Maka tadi malam, ketika lagu itu diputar di HPnya, dia kaget dan langsung memelukku. (*asyiiik*). Tapi lagunya pendek, nggak sampe empat menit. Maka lagu itu diputar ulang sampai beberapa kali.

Kemudian, dia malah berdiri dan memelukku. Mengajak dansa seperti salah satu adegan di film, ketika Keanu dan Sandra berdansa dengan suara latar berupa lagu dari album Paul di tahun 2005 itu. Aku sih seneng aja diajak dansa, walaupun baru aja pulang kerja dan masih gerah karena belum mandi. Tapi, kok matamu terpejam, Say? Jangan-jangan lagi mengkhayalkan Keanu Reeves dan pura-pura lupa bahwa yang memelukmu adalah suamimu? (*agak-agak curiga, sampe merenggangkan dekapan*). Ah, cuek aja, ah. Toh dia juga nggak tahu apakah aku menyadari sepenuhnya kalau sedang memeluk dia ataukah sedang mengkhayalkan Keanu juga. (LHO....!?)

PAUL Mc CARTNEY:
This Never Happened Before

I'm very sure, this never happened to me before
I met you and now I'm sure
This never happened before

Now I see, this is the way it's supposed to be
I met you and now I see
This is the way it should be

This is the way it should be, for lovers
They shouldn't go it alone
It's not so good when your on your own

So come to me, now we can be what we want to be
I love you and now I see
This is the way it should be
This is the way it should be

This is the way it should be, for lovers
They shouldn't go it alone
It's not so good when your on your own

I'm very sure, this never happened to me before
I met you and now I'm sure
This never happened before (This never happened before)
This never happened before (This never happened before)
This never happened before (This never happened before)
This never happened before

12/22/2006

belajar menjadi suami (3)

Adakah batas waktu untuk belajar sesuatu? Kalau acuannya sekolah, maka jawabnya ya, ada batas waktu untuk belajar. Sebagai contoh, setidaknya di Indonesia, murid SD secara normal belajar di sekolah selama enam tahun. Tentu saja ada yang lebih, dan ada yang kurang dari itu. Tapi jelas, ada batasan waktu bagi murid yang belajar di SD. Tapi itu batasan di institusi pendidikan formal. Di institusi non formal, seperti masyarakat misalnya, maka proses belajar tidak dibatasi waktu. Begitu juga dengan belajar menjdai suami. Tak ada batasan waktu. Dalam artian, tidak pernah seorang akan dianggap lulus untuk menjadi suami, atau telah cukup dan sempurna menjadi suami, sehingga tak perlu belajar lagi. Belajar dalam masyarakat, seperti juga belajar menjadi suami, adalah belajar yang tak bisa dibatasi waktu. Seumur hidup harus dijalani.

9/27/2006

Belajar Menjadi Suami (2)

Belajar dari Shalat

Di bulan Ramadhan, kesempatan beribadah biasanya lebih luas. Termasuk melakukan shalat berjamaah berdua dengan isteriku. Kalau biasanya hanya berkesempatan menjadi imam shalat fardlu, maka di Ramadhan kesempatan menjadi imam baginya akan bertambah. Sebut saja seperti shalat tarawih ataupun ketika Qiyamul Lail dengan tahajjud. Ini membuatku sering merenungkan arti menjadi imam bagi isteriku sendiri.

Saat aku berdiri menjadi imam shalat bagi isteriku, dimensi yang bermain bukan hanya dimensi ruhiah saja, atau sekedar menghapus kewajiban terhadap Tuhan. Saat menjadi imam shalat sebenarnya aku sedang memimpin isteriku menghadap Allah. Itu berarti memimpinnya beribadah. Nah, ibadah ini punya dimensi sangat luas. Tidak sekedar ritual rutin saja. Memimpin isteriku shalat sama saja dengan memimpinnya menjalani hidup ini. Aku harus menjadi panutan baginya saat ruku, sujud, mengucap salam, atau gerakan shalat lainnya. Ini juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Aku harus mampu membimbingnya menjalani hidup, belajar menapak dalam irama yang serasi dan seimbang, sambil terus menyadari bahwa menjalani hidup adalah ibadah yang tak terputuskan. Tentu saja harus ada interaksi dan saling koreksi. Bukankah dalam shalat sekalipun, seorang imam yang salah harus bersedia dikoreksi jamaahnya? Maka dalam menjalani hidup pun aku harus bersedia mendengar masukan dari isteriku, baik berupa kritik maupun saran.

Kalau mau ditarik lebih jauh lagi, maka harus dikaji sejak sebelum melakukan shalat, yaitu membersihkan diri dengan wudhu. Seorang imam yang penuh perhatian, akan memperhatikan juga cara diriya berwudhu, agar perannya sebagai imam tidak justru merugikan jamaahnya. Dalam kehidupan, aku harus memerhatikan betul status "kebersihan" rumah tangga. Bukan saja secara fisik, tapi juga secara mental dan ruhani. Misalnya saja, aku harus memerhatikan dari mana asal nafkah yang kuberikan pada isteriku. Tak bisa aku sembarangan memberikan nafkah tanpa mencermati asal usulnya. Kalau gagal, berarti aku juga gagal menjaga wudhu. Secara mental, wudhuku sudah batal, atau membuat isteriku batal wudhunya.

Setelah wudhu, yang harus disiapkan adalah kesucian tempat shalat, yang secara harfiah direpresentasikan dengan sajadah. Ini, dalam kehidupan, sama saja seperti ketika memilih tempat bergaul bagi rumah tangga kita. Seperti apa lingkungan pergaulan dan siapa kawan-kawan pilihan, aku harus mampu membimbingnya. Seperti ketika aku menyiapkan kesucian sajadah tempat kami shalat. Alhamdulillah, saat ini isterku sudah bergabung dalam liqo pekanan. Dan aku tahu, meski bukan orang-orang sempurna, tapi Insya Allah mereka, teman-teman isteriku, adalah orang-orang yang hanif dan amanah.

Hal yang sama juga berlaku untuk setiap gerakan shalat, mulai Takbiratul Ihram hingga Salam. Semua menjadi cermin bagaimana aku memimpin isteri menjalani hidup ini. Membimbingnya agar bahtera rumah tangga kami mampu terus berlayar hingga tetap dalam kondisi selamat. Harus selalu ada kesesuaian antara apa yang terjadi dalam sahalat berjamaah dengan apa yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau tidak, itu artinya shalatku hanya berhenti menjadi ritual rutin penggugur kewajiban semata. Itu berarti shalatku tidak dikerjakan dalam keadaan sadar. Padahal Allah melarang kita untuk shalat dalam keadaan tidak sadar atau mabuk.

Maka percuma aku shalat berjamaah bersama isteriku dengan khusuk kalau gagal memberi kasih sayang penuh kepadanya, sebagaimana ketika mengucapkan salam ke kanan, tempat ia duduk ketika shalat berjamaah denganku. Percuma saja shalat khusuk kalau ternyata masih tak mampu membimbing isteri dalam kehidupan sehari-hari. Percuma aku shalat dengan memulai wudhu kalau tak mampu memberi nafkah yang halal dan thayib bagi isteriku, atau gagal mendorongnya untuk mengikuti kumpulan pergaulan yang baik dengan tujuan yang baik pula, meskipun telah memilih tempat yang bersih untuk shalat. Hubungan shalat khusuk ini (pastilah) timbal balik. Artinya, aku tak akan mampu bersikap baik seperti hal-hal yang kusebutkan di atas, kalau shalatku sendiri tidak khusuk. Bukankah Allah menjanjikan bahwa shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar? Maka pastilah ada korelasi tegas antara kekhusukan saat shalat dengan keberhasilan menjalani kehidupan.

Menjadi imam shalat jamaah, terutama ketika berdua dengan isteriku, haruslah menjadi sarana yang terus mengingatkan diriku untuk mengacu pada akhlak yang baik saat menjadi seorang suami. Seperti telah diketahui, shalat adalah penghubung antara makhluk dengan Khalik. Maka shalat menjadi semacam akhlak, menjadi tata cara bersikap, bagi seorang makhluk kepada Khaliknya. Kalau aku menjadikan shalat ini menjadi cermin berperilaku sehari-hari, maka shalat adalah akhlak acuan saat aku mengimami isteriku ketika menjalani kehidupan ini. Konsekuensinya, sikapku terhadap isteriku dalam menjalani kehidupan ini, adalah bagian dari sikapku terhadap sang Pencipta. Penilaian akhlakku terhadap Allah juga ditentukan dengan akhlakku terhadap isteriku!

Menjadi imam memang tidak mudah, baik dalam shalat maupun dalam kehidupan sehari-hari. Tapi aku telah memilih peran itu, ketika mengucap ijab untuk menikah dengannya. Berjanji akan menjadi imam baginya. Dan aku bisa belajar menjalani peran itu, setiap kali aku menjadi imam shalat baginya.

Allahu'alam Bishawab

9/08/2006

Belajar Menjadi Suami (1)

Arswendo pernah menulis "Pelajaran Pertama Calon Ayah". Judul ini berkesan bagiku. Tema yang dalam kalimat itulah yang terpikir saat aku mencari pengganti judul blog ini. Kenapa blog ini harus diganti judulnya? Kenapa harus memakai judul "Belajar Menjadi Suami? Begini ceritanya.

Semula blog ini berjudul "ar... ...di on the blog". Kemudian karena isinya lebih banyak menceritakan perihal kami berdua, yaitu aku dan isteriku, maka kuganti saja menjadi "arief - lilis on the blog". Harapanku, isteriku juga mau ikutan menulis di blog ini. Tapi ternyata isteriku masih malu-malu untuk menulis. Mungkin ketiadaan koneksi internet di rumah menjadi salah satu kendala juga. Di samping itu, isteriku ternyata keberatan dengan salah satu tulisanku dan memintaku untuk menghapusnya). Tentu saja aku merasa mendapat pukulan, terpukul, dan kecil hati. Seolah ada yang menunjukku sambil berseru, "Ada yang salah dengan Blog ini !"
Lalu aku coba melakukan koreksi. Kucari, kuteliti, dan kupelajari tiap kata yang kutulis di blog ini. Sampai aku mendapatkan satu kesimpulan: aku belum menjadi suami yang ideal bagi dirinya. Masih perlu melakukan pembelajaran diri. Memang aku sudah menjadi suami, tapi kini aku berpikir bahwa menjadi suami adalah proses belajar. Kalau begitu, judul blog ini lagi-lagi harus diganti. Aku ingin judul yang bisa mewakili kondisi sekaligus semangatku saat ini. Kemudian terlintaslah judul buku tadi (judulnya saja, bukan isinya!). Barangkali karena aku belum punya anak dan masih berstatus calon ayah. Lagipula semangatnya sekarang adalah semangat belajar untuk menjadi suami yang baik bagi isteriku. Maka kupilih saja judul "Belajar Menjadi Suami".

Mungkin kau anggap terlalu mengada-ada paparanku ini, tapi aku merasa judul itu lumayan enak di dengar di telinga. Tadinya aku ingin membuat "belajar menjadi ayah". Tapi karena belum punya anak, maka judul itu rasanya belum pas. Memang kalau "belajar menjadi suami" akan ada kesan bahwa aku belum menjadi suami. Namun kemungkinan itu aku kesampingkan saja. Sebab memang suami itu bukan status, melainkan proses untuk menjadi sesuatu, yaitu suami ideal.

Nah, semoga saja setelah mendapat pelajaran karena kritik isteriku, dan dengan niat dan semangat (serta cara pandang) yang baru untuk jadi suami, aku tak perlu mengganti judul blogku lagi suatu saat nanti.

8/29/2006

Surat buat Isteriku (1)

Sebuah Rumah di Puncak Bukit Kecil

Kalau Kau berjalan melalui jalan yang biasa aku lewati, maka di suatu tempat akan Kau temukan sebuah bukit kecil. Dan di puncak bukit kecil itu, Kau akan melihat sebuah rumah berdiri indah.

Rumah itu sedang-sedang saja ukurannya. Tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Sehingga sangat pas untuk ditempati sebuah keluarga dengan dua atau tiga orang anak. Dinding dan atapnya berwarna sangat serasi: kuning muda dan hijau kotoran kuda.

Di seputar rumah berpagar setinggi satu meter itu, terdapat halaman yang cukup luas. Halaman depannya ditanami berbagai macam bunga. Halaman sampingnya, di kiri dan di kanan, ditanami berbagai tanaman sayuran. Ada jalan setapak menghubungkan halaman depan dengan halaman belakang yang luas. Beberapa pohon buah-buahan setinggi atap rumah tumbuh rindang di halaman belakang. Sebuah kursi taman tampak sangat serasi di tepi kolam kecil, di bawah pohon rambutan.

Rumah itu sendiri punya tiga kamar tidur, satu ruang tamu, satu ruang duduk keluarga, satu ruang shalat, satu ruang kerja, satu perpustakaan, satu dapur, serta dua kamar mandi. "Ruang makan" berhadapan dengan dapur, menghadap kolam kecil di halaman belakang. Sangat nyaman rasanya, sarapan pagi sambil memperhatikan ikan-ikan mas dan nila berkeliling di dalam kolam. Atau makan malam sambil bermandikan cahaya bulan yang menerangi halaman belakang. Diiringi suara gemericik air dari air terjun mini di sekitar kolam. Sebab, yang kusebut sebagai ruang makan di sini, adalah area yang separuhnya ada di bawah atap rumah, bersambung dengan dapur, dan separuhnya lagi berada di luar, tanpa atap permanen. Dinding kaca tembus pandang memisahkan dua ruangan ini.

Masih banyak lagi cerita menyenangkan tentang rumah itu. Tak akan habisnya bila harus kuceritakan padamu. Hanya, ada satu kelemahannya: rumah itu masih berada di puncak bukit, di suatu tempat yang bisa terlihat dari jalan yang biasa aku lewati.

Memang, bukit itu tak terlalu tinggi, tapi tetap saja tidak mudah bagiku untuk mendaki hingga puncaknya. Hingga kini, aku belum pernah mencapai puncak bukit itu. Padahal, itu adalah salah satu impian terbesarku. Bukannya aku tak pernah mencoba mencapainya, tapi mungkin aku memang masih harus bersabar lagi. Lagipula aku khawatir, bila saat ini aku sudah sampai di puncak bukit itu, maka tak ada lagi puncak-puncak lain yang menghiasi ruang mimpiku. Bukankah setelah puncak, tak ada lagi yang lain selain arah yang menurun?

Biarlah suatu saat saja aku gapai puncak bukit itu lalu memasuki rumah yang ada di sana. Aku yakin suatu saat hal itu akan terwujud. Dan aku berharap Kekasih, aku akan melakukannya bersamamu. Selama saat itu belum tiba, aku juga berharap Kau tak akan bosan menemaniku berjalan (walau kadang pelan) menuju rumah di puncak bukit kecil itu. Biarpun terkadang harus melewati jalan berkerikil tajam, atau menjumpai tikungan yang tiba-tiba menghadang, aku yakin akan mampu mengatasinya, selama Kau bersedia menemaniku berjalan. Dan kita akan tetap berjalan berdampingan, bergandengan tangan, karena Kau dan aku punya satu impian.