Showing posts with label Surat Buat Istriku. Show all posts
Showing posts with label Surat Buat Istriku. Show all posts

11/06/2007

Selamat Ulang Tahun

: Lilis Sofiani

bisik apa yang kau nantikan
sebelum kabar berduyun datang dari televisi dan radio?
tentang kelud yang malu-malu kucing,
atau perusak hutan yang divonis bebas,
atau kabel dan rel kereta yang dicuri lagi,
atau lagu usang yang mengancam negri jiran,
atau tentang ancaman banjir di awal musim?

bisik apa yang kau nantikan,
ketika adzan pertama telah berlalu
dan aku kembali terlelap di dekapmu?
setiap embun yang singgah di sudut matamu
membiaskan kasih yang tak henti membasuh
luka di dadaku yang tak juga sembuh.

bisik apa yang kau nantikan
dari mulut kotor ini
yang sehari-hari kau dengar tinggi suaranya
yang ketika malam tadi aku terjaga
dan diam-diam meninggalkan jejak kecupan di keningmu?
kau tersenyum tanpa sadar
mata damai terpejam.
mungkin kau sedang mengembara ke negri impian
atau sedang berbincang dengan nurani
yang sugguh tak mampu kulukis bening jernihnya.

maka sebelum datang kabar,
sebelum lenyap mimpi,
sebelum terbit fajar,
sebelum luruh embun pagi,
kutuliskan lagi keindahanmu di senyap dini hari
: selamat ulang tahun
semoga segalanya
tetap indah selamanya.

6 November 2007

7/13/2007

Surat Buat Isteriku (4)

Dongeng Sebelum Tidurmu

Ini cerita tentang rindu. Ketika angin seolah mati dan cakrawala hanya menampakkan wajah kusam. Kicau burung telah berhenti, dan geliat ombak sudah surut sejak tadi.

(kau bilang: emang kapan anginnya hidup, kok dibilang angin mati?
aku jawab: 'kan aku bilang seolah, padahal sih enggak. angin itu sering diasosiasikan sebagai pembawa kabar. makanya ada istilah kabar angin. Kalau nggak ada angin, berarti nggak ada kabar.
kau bilang lagi: ombaknya bangun tidur? kok menggeliat-geliat?
aku jawab: ombaknya beranak dalam kubur! ini mau diceritain nggak? kalo protes mulu, ngarang aja cerita ndiri.
kau bilang:...
eh, nggak ding. kau nggak bilang apa-apa lagi, tapi cuma cengengesan...jadi aku lanjutin lagi dongengnya)


Di hutan itu tidak ada anggukan mawar dari semak-semak yang mengurung sepi. Apalagi pekik satwa hutan menjelang pergantian hari. Daun-daun jati sedang berguguran. Tidak, bukan mau mati, tapi karena pohon-pohon jati itu sedang membantu daun-daun pulang menjumpai ibunda pertiwi. Ya, daun itu melambai turun, helai demi helai karena bumi memanggilnya pulang. Karena rahim ibunda pertiwi sedang menyiapkan kesuburan, merindukan kesuburan.

Dahan-dahan jati melepas kepergian daun-daun itu tanpa keluhan. Tanpa suara tangisan. Semua terjadi tanpa ada yang menyadari, seolah terjadi begitu saja. Padahal, seperti semua perpisahan: selalu ada ruang kosong yang ditinggalkan dan dahan-dahan jati itu ikhlas memilih dirinya sendiri yang menderita karena ditinggalkan. Karena dahan-dahan itu sadar bahwa semua demi kesuburan bumi tempatnya berdiri. Biarlah mereka pergi menemui ibundanya, karena kelak mereka kembali dalam diriku, begitu mungkin suara dahan-dahan. Sebuah prosesi kuno yang telah berlangsung sepanjang usia alam.

Ia telusuri jalan setapak di pinggir hutan itu. Semestinya jalan itu berada di tep sungai kecil yang mengalir. Tapi ini kemarau, maka sungai itu tinggal sebuah cekungan berisi batu dan debu. Memang ada genangan, tapi tak cukup banyak untuk bisa disebut air yang mengalir. Di jalan itulah ia melangkah perlahan, seolah bimbang pada arah yang dituju. Tapi dia tahu, jalan itu memang akan berakhir di sebuah sungai lain dan ia akan menelusuri jalan setapak di tepi sungai itu nantinya. Entah ke mana, barangkali ke hutan yang lain lagi, atau malah ke lautan.

Hari mulai gelap dan hawa kemarau berubah dengan cepat. Dingin. Kehangatan mulai melambai-lambai seperti selendang di angan-angan ketika udara merangkul pundaknya. Mencengkeram leher hingga ia mulai menggigil. Tapi ia tak peduli udara dingin. Ia tetap melangkah perlahan. Karena ia yakin setiap tikaman udara dingin akan membuat rindunya makin subur.

Ya, dia sedang merindukan kekasihnya dan setiap pemandangan guguran daun jati akan memupuk perasaannya itu, membuatnya teringat pada seseorang yang telah ia titipkan hatinya, seperti pohon jati menitipkan daun-daunnya pada bumi. Maka dia tetap melangkah perlahan, diantara debu dan batu yang terasa dingin saat kaki menyentuh. Dua tahun bukan waktu singkat untuk merajut harapan, tapi itulah yang sekarang ia kenakan: Rajutan kelabu dan penuh debu. Lusuh. Hanya berhiaskan kenangan pada samar wajah seseorang. Wahai penguasa hutan, tidak adakah binar mata dari seseorang yang sedang ia cari? Bintang-bintang hanya menawarkan kesenangan sesaat dan mereka terlalu jauh untuk disapa.
"Kau lihat bintang itu, Kekasih?"
Ah, adakah yang lebih mampu membuat hati bergetar, selain berjalan sendiri di antara belukar dan memanggil seseorang tanpa sadar?

Masih diterjemahkannya sepi itu sebagai beban rindu yang memberat di pundak. Pundak yang begitu ringkih dan butuh sandaran kuat dan kokoh. Masih di...

Lho...kok. Ney?...dah tidur ya? Honey..., Honey...!
Ughhh.... tadi minta diceritain, kok malah tidur? pasti besok minta diulang dari awal lagi deh. Gak mau ah. Pokoknya kalau besok mau tidur, minta ditemani Joan Baez aja ya, biar dia nyanyi DonnaDonnanya sampe jontor dan kamu tertidur...Tapi, "Met bobo', honey..., mimpiin aku ya!"

7/06/2007

Surat Buat Isteriku (3)

dulu sebelum menikah,
aku berharap istriku seperti khadijah:
melindungi suaminya kala gemetar ketakutan
dengan hangat selimut kasih
dan dekapan sayang keibuan.

atau seperti Siti Hajar:
meski sendiri ditinggal di gurun kesepian
tapi selalu merajut kesetiaan
dan teguh memegang janji.

atau fatimah az-zahra:
tabah menjalani hari-hari dalam kesederhanaan
meski hanya tinggal di rumah kecil
berhiaskan prihatin semata

tapi ternyata,
akupun bukan muhammad Rasulullah
yang kata-katanya senantiasa dapat dipercaya.
atau Ibrahim yang hanif,
dan teguh berdiri menjaga iman,
atau Ali bin Abi Thalib yang perkasa
namun selalu santun pada sesama.

aku hanya suamimu yang masih mudah marah saat kejengkelan merusak hatinya
laki-laki yang akan berdiri sombong saat kau usik egonya
dan bocah balita yang dibungkus dalam tubuh orang dewasa:
manja, kekanak-kanakan, dan senantiasa tak mau kalah

sering aku jengkel ketika kau tak bisa melangkah secepat langkahku
padahal seharusnya akulah yang mendukungmu di jalan berbatu terjal
atau tiba-tiba keluar kata-kata kasar saat kau tak juga mengerti diriku
padahal seharusnya akulah yang membimbingmu dengan lemah lembu saat kau kesulitan

maka aku menerimamu apa adanya
sebagai istri yang tentu akan punya kekurangan,
namun menyimpan kelebihan-kelebihan yang aku sendiri tak pernah miliki.
aku menerimamu
sebagaimana kau menerimaku

inilah sungai deras
yang selalu mengalir mencari lautanmu

semoga kelak akan terbaca
bahwa perjalanan kita tulus menuju pada sang pencipta
mengikuti irama dalam syariatNya
dan berada dalam surga abadiNya.

9/18/2006

Surat Buat Isteriku (2)

Gambaran Surga Kita

Aku mengenalnya untuk kali pertama pada saat aku masih duduk di kelas dua SMA. Cantik, anggun, dan sanggup membuatku berkali-kali terpikat padanya. Setiap menyambanginya, aku selalu merasa sedang berada di surga. Membuatku rela mati saat itu juga. Dan setiap kali sehabis mengunjunginya, aku selalu merasakan adanya tambahan gairah dalam hidupku, menyegarkan pikiran dan suasana batinku yang seringkali jenuh dengan rutinitas kehidupan sehari-hari.

Memang butuh waktu tidak sedikit jika aku ingin menemuinya, tapi itu tak berarti apa-apa dibandingkan segala yang kudapatkan kemudian. Aku sering berlama-lama memandangi wajahnya dari segala jurusan. Menikmati hawa sejuk yang ia tawarkan, seraya mengamati awan tipis yang melambai pelan dilatari langit luas kebiruan. Atau mendengarkan kicau burung dan ricik air di kejauhan. Tak jarang kedamaian yang disuguhkan membuatku merasa amat tenang hingga terlelap di pangkuannya.

Kau sebenarnya pernah mengunjunginya, tapi tak sampai menjumpainya. Hanya berhenti di pelataran depan saja, tidak sempat meliaht rupa dan wajahnya yang teduh dan damai. Ya, Kau pernah mengunjunginya, meski tak pernah menjumpainya. Kau mungkin bertanya-tanya, siapa dia gerangan ?

Orang-orang menyebutnya Mandalawangi. Entah kenapa ia disebut seperti itu. Mungkin ada kaitannya dengan sebuah dongeng atau mitos tertentu, sebab setahuku, Mandala berarti Medan Perang, dan Wangi adalah aroma yang segar dan menyenangkan. kalau demikian halnya, Mandalawangi bisa berarti Medan Perang yang Harum. Iya nggak ? Barangkali ada mitos atau legenda yang menceritakan peperangan di sana, lalu darah yang tertumpah menjadi penyubur bagi tumbuhnya bunga-bunga Edelweiss Jawa yang khas aroma dan wanginya. Dalam buku hariannya, Soe Hok Gie tak cuma sekali menyebut kecintaannya pada Mandalawangi. Bahkan abu jenazahnya (setelah dua kali kuburnya dibongkar) juga tersebar di sana. Buku itu juga yang membuatku (ketika kelas dua SMA) penasaran dan ingin berkenalan dengannya.

Ia ada di bawah puncak gunung Pangrango, sekitar seratus meter ke arah barat, menghadap gunung Salak. Bukankah Kau pernah ke puncak gunung Pangrango, tapi belum sempat mengunjungi Mandalawangi ? Padahal amat disayangkan sekali kalau sudah tiba di puncak Pangrango tapi tidak mampir ke Mandalawangi. Di sana segala kelelahan akan sirna. Kedamaian yang kuceritakan di atas bukan omong kosong belaka. Dengarlah gemericik yang berasal dari mata air kecil di sana. Mata air yang menyampaikan kerinduan puncak-puncak gunung kepada lautan. Mata air yang terus mencari jalan pintas untuk menemui kekasihnya yang menunggu di bibir muara di pinggir laut utara. Terkadang mata air itu mengalir begitu tenang di tengah hutan, menjadi sumber kehidupan bagi segenap hewan penghuninya. Tapi ia juga sanggup menjelma menjadi jeram besar, seperti air terjun di sekitar Taman Safari di Cisarua. Air terjun tinggi yang begitu deras dan mengalir bergegas, seakan menyiratkan rasa rindu yang tak tertahankan untuk menemui keaksihnya di lautan. Kau pernah memikirkan hal itu, Sayangku? Atau hanya orang gila semacam aku saja yang sempat melamun dan berpikir akan sanggup menyelami kedalaman pikiran dari sebuah mata air kecil di puncak pegunungan?

Aku ingin mengajakmu ke sana. Berdua menikmati lembutnya sepoi angin di pagi hari. Menatap pergerakan awan yang melukis bentuk-bentuk ajaib di langit kebiruan. Atau sekedar membasuh tangan dan merasakan kesejukan mata air kecil yang kelak menjadi sungai-sungai besar di muara pantai utara pulau Jawa. Aku ingin merasakan keindahan dan kedamaian itu denganmu. Berdua kita saling menjalin cerita indah, mungkin untuk kita kisahkan kembali pada anak cucu kita kelak. (kenapa ya, hingga kini aku belum juga dipercaya Allah untuk menjadi seorang bapak?) Kau pasti akan setuju denganku tentang penggalan surga: Seolah ada sudut surga yang sengaja dilepas dan diletakkan di sana.

Entah kapan terakhir kali aku mengunjunginya. Rasanya sudah lama sekali. Dulu aku kerap mengunjunginya jika sedang merasa susah atau bosan dan ingin melepas kejenuhan. Rasa lelahku akan hilang dan semangat hidup akan kembali tumbuh sesudah aku ke sana. Tapi akankah kedamaian itu masih berdiam di sana? Sekian ribu orang yang mengununginya setiap pekan pasti menimbulkan juga pencemaran, jadi mungkin saja suasananya tak seindah seperti puisi. Namun niatku tak pernah terhapus. Aku pernah berjanji, kelak akan membawa keluargaku mengunjunginya. Bersama isteri dan anakku. Memang perjalanannya tidak semudah kalau kita pergi ke Mal atau ke pasar serpong. Tapi percayalah, di sana ada penggalan surga. Dan aku tak pernah bersedia masuk surga, kecuali bersama orang tercinta. Itu berarti dirimu, Kekasih. Sebab engkaulah yang kini menyimpan segenap harapan dan cita-cita.

8/29/2006

Surat buat Isteriku (1)

Sebuah Rumah di Puncak Bukit Kecil

Kalau Kau berjalan melalui jalan yang biasa aku lewati, maka di suatu tempat akan Kau temukan sebuah bukit kecil. Dan di puncak bukit kecil itu, Kau akan melihat sebuah rumah berdiri indah.

Rumah itu sedang-sedang saja ukurannya. Tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Sehingga sangat pas untuk ditempati sebuah keluarga dengan dua atau tiga orang anak. Dinding dan atapnya berwarna sangat serasi: kuning muda dan hijau kotoran kuda.

Di seputar rumah berpagar setinggi satu meter itu, terdapat halaman yang cukup luas. Halaman depannya ditanami berbagai macam bunga. Halaman sampingnya, di kiri dan di kanan, ditanami berbagai tanaman sayuran. Ada jalan setapak menghubungkan halaman depan dengan halaman belakang yang luas. Beberapa pohon buah-buahan setinggi atap rumah tumbuh rindang di halaman belakang. Sebuah kursi taman tampak sangat serasi di tepi kolam kecil, di bawah pohon rambutan.

Rumah itu sendiri punya tiga kamar tidur, satu ruang tamu, satu ruang duduk keluarga, satu ruang shalat, satu ruang kerja, satu perpustakaan, satu dapur, serta dua kamar mandi. "Ruang makan" berhadapan dengan dapur, menghadap kolam kecil di halaman belakang. Sangat nyaman rasanya, sarapan pagi sambil memperhatikan ikan-ikan mas dan nila berkeliling di dalam kolam. Atau makan malam sambil bermandikan cahaya bulan yang menerangi halaman belakang. Diiringi suara gemericik air dari air terjun mini di sekitar kolam. Sebab, yang kusebut sebagai ruang makan di sini, adalah area yang separuhnya ada di bawah atap rumah, bersambung dengan dapur, dan separuhnya lagi berada di luar, tanpa atap permanen. Dinding kaca tembus pandang memisahkan dua ruangan ini.

Masih banyak lagi cerita menyenangkan tentang rumah itu. Tak akan habisnya bila harus kuceritakan padamu. Hanya, ada satu kelemahannya: rumah itu masih berada di puncak bukit, di suatu tempat yang bisa terlihat dari jalan yang biasa aku lewati.

Memang, bukit itu tak terlalu tinggi, tapi tetap saja tidak mudah bagiku untuk mendaki hingga puncaknya. Hingga kini, aku belum pernah mencapai puncak bukit itu. Padahal, itu adalah salah satu impian terbesarku. Bukannya aku tak pernah mencoba mencapainya, tapi mungkin aku memang masih harus bersabar lagi. Lagipula aku khawatir, bila saat ini aku sudah sampai di puncak bukit itu, maka tak ada lagi puncak-puncak lain yang menghiasi ruang mimpiku. Bukankah setelah puncak, tak ada lagi yang lain selain arah yang menurun?

Biarlah suatu saat saja aku gapai puncak bukit itu lalu memasuki rumah yang ada di sana. Aku yakin suatu saat hal itu akan terwujud. Dan aku berharap Kekasih, aku akan melakukannya bersamamu. Selama saat itu belum tiba, aku juga berharap Kau tak akan bosan menemaniku berjalan (walau kadang pelan) menuju rumah di puncak bukit kecil itu. Biarpun terkadang harus melewati jalan berkerikil tajam, atau menjumpai tikungan yang tiba-tiba menghadang, aku yakin akan mampu mengatasinya, selama Kau bersedia menemaniku berjalan. Dan kita akan tetap berjalan berdampingan, bergandengan tangan, karena Kau dan aku punya satu impian.