1/23/2007

Kebahagiaan Seorang Suami

Kapan saat paling membahagiakan sebagai seorang suami? Buatku, moment itu datang setiapkali sehabis shalat berjamaah, lalu istriku menyalami dan mencium tanganku dengan penuh perasaan. Entah apa yang ia rasakan, tapi jelas, ia sangat menghayati situasi itu.

Barangkali aku menjadi merasa sangat bahagia, kerena merasa bahwa istriku ternyata tulus menerimaku sebagai suaminya. Mungkin juga karena merasa yakin, betapa seorang istri yang bersedia mencium tangan suaminya, telah tulus ikhlas menyiapkan dirinya untuk berbakti kepada suaminya dengan penuh khidmat. Keyakinan ini memang bisa saja hanya perasaan semu atau sekadar GeeR saja. Tapi kemungkinan itu segera terhapus tatkala menjumpai senyum dan tatapan lembutnya yang penuh rasa. Cinta. Sayang. Ikhlas. Pengorbanan. Itulah kesan yang hinggap dalam dada. Memang tak banyak kata-kata yang terucap, karena suasana telah membuatku melayang, meskipun saat itu aku dan istriku masih berada di atas sajadah.

Rasulullah pernah mengatakan, bahwa "Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita shalihah." Mungkin statement Nabi ini bisa menjadi penjelasan, kenapa saat-saat sehabis shalat berjamaah berdua itu begitu membuai. Saat ketika diri ini begitu yakin akan kesetiaan istri untuk tetap menerima suaminya apa adanya, serta sikap yang menyatakan kesediannya untuk mengabdi dan berbakti sepenuh hatinya. Saat ketika hati ini begitu mantap mengatakan, bahwa dia adalah sebaik-baiknya perhiasan dunia.

12/22/2006

belajar menjadi suami (3)

Adakah batas waktu untuk belajar sesuatu? Kalau acuannya sekolah, maka jawabnya ya, ada batas waktu untuk belajar. Sebagai contoh, setidaknya di Indonesia, murid SD secara normal belajar di sekolah selama enam tahun. Tentu saja ada yang lebih, dan ada yang kurang dari itu. Tapi jelas, ada batasan waktu bagi murid yang belajar di SD. Tapi itu batasan di institusi pendidikan formal. Di institusi non formal, seperti masyarakat misalnya, maka proses belajar tidak dibatasi waktu. Begitu juga dengan belajar menjdai suami. Tak ada batasan waktu. Dalam artian, tidak pernah seorang akan dianggap lulus untuk menjadi suami, atau telah cukup dan sempurna menjadi suami, sehingga tak perlu belajar lagi. Belajar dalam masyarakat, seperti juga belajar menjadi suami, adalah belajar yang tak bisa dibatasi waktu. Seumur hidup harus dijalani.

10/06/2006

soal cara curhat

Sedikit lho, orang yang bisa mengutarakan perasaan dalam tulisan lalu menyerahkannya pada dunia untuk dibaca. Apalagi kesedihan dan luka-luka hatinya. Aku juga kurang berani dalam hal ini. Masalahnya cuma satu: aku belum pandai menceritakan masalah atau kesedihanku dalam bentuk yang tidak nelangsa dan tidak membuat orang lain iba, yang tidak membuat orang jadi menyudutkan kita sebagai cengeng karena ada kata sedih atau tangis di dalamnya. Padahal, banyak orang lain (mungkin temasuk kau D ?) yang mampu menuliskan kesedihannya tanpa sedikitpun menuliskan kata sedih atau tangis di dalamnya. Contohnya tulisan ini nih:

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

Tanpa kata-kata sedih yang menimbulkan rasa iba, kita seolah-olah melihat suatu bingkai kepedihan yang dialami penulis. Sebuah lukisan pemandangan di tepi laut dengan kapal dan perahu yang diam pasrah di dermaga, tanpa gairah untuk menerjang ombak yang juga seakan telah kehilangan geloranya. Malam pun seolah datang lebih cepat memenuhi ajakan gerimis yang datang. Terdengar kelepak elang di kejauhan, yang tentu tak akan terdengar saat suasana ramai. Di tengah suasana sepi dan muram itu, si penulis berjalan seolah tanpa harapan, berjalan seorang diri sepanjang semenanjung. Mengharap kesedihan segera berakhir dan tangis yang keluar adalah sedu penghabisan. Itu yang kita tangkap. Padahal, tak ada satupun kata-kata sedih, tangis, perih, apalagi luka dan sakit hati.

Oh iya, penulis kata-kata di atas namanya chairil anwar.

Nah, ternyata ada yang bisa menulis kesedihan dan pedih hati dengan cara luar biasa seperti itu. Rasanya kepingin juga bisa nulis seperti itu. Tapi tiap orang punya hak masing-masing, ya? Kalau aku nggak bisa nulis seperti di atas, bukan berarti aku tidak boleh menuliskan perasaanku. Hanya saja, aku tidak boleh protes kalau orang lain jadi salah paham, atau keliru membuat tafsir, atau tiba-tiba menyuruhku bangun dari mimpi berkepanjangan. Kecuali jika sejak awal memang tidak dibuka peluang bagi orang lain untuk memberikan komentar.

Tanpa bermaksud menggurui, apa kau tertarik untuk bisa menulis dengan gaya seperti itu? Sehingga ketika menulis tentang kesedihan kita, pembaca akan paham bahwa kita sedang sedih, tapi tanpa tuduhan bahwa kita cengeng, tanpa tudingan bahwa kita lemah. Aku sih tertarik, tapi ternyata nggak gampang. Hasilnya masih jauh dari harapan Contohnya, waktu aku patah hati (cihuy..) dan tiba-tiba teringat dengan orang yg membuatku patah hati, aku nulis seperti ini:

Kaukah itu, yang menitipkan senyum pada mentari
merajut tirai jingga di jendela langit pagi
ketika angin merangkai udara
dan resah membingkai rasa

Apa kabar, Melati
yang pernah semi dan mekar di dasar hati ?

dst.

Kacau banget kan tuh? Makanya aku selalu tertarik kalau ada orang membuat tulisan, seperti yang ada di web kutuloncat :) . 'Kali aja aku bisa mencuri ilmunya, hehe... Nah, kalau kau punya kemampuan itu, bagi-bagi ya! Soalnya, pasti tak akan ada lagi orang menuduh kita macam-macam atau salah tanggap terhadap tulisan kita.

9/27/2006

Belajar Menjadi Suami (2)

Belajar dari Shalat

Di bulan Ramadhan, kesempatan beribadah biasanya lebih luas. Termasuk melakukan shalat berjamaah berdua dengan isteriku. Kalau biasanya hanya berkesempatan menjadi imam shalat fardlu, maka di Ramadhan kesempatan menjadi imam baginya akan bertambah. Sebut saja seperti shalat tarawih ataupun ketika Qiyamul Lail dengan tahajjud. Ini membuatku sering merenungkan arti menjadi imam bagi isteriku sendiri.

Saat aku berdiri menjadi imam shalat bagi isteriku, dimensi yang bermain bukan hanya dimensi ruhiah saja, atau sekedar menghapus kewajiban terhadap Tuhan. Saat menjadi imam shalat sebenarnya aku sedang memimpin isteriku menghadap Allah. Itu berarti memimpinnya beribadah. Nah, ibadah ini punya dimensi sangat luas. Tidak sekedar ritual rutin saja. Memimpin isteriku shalat sama saja dengan memimpinnya menjalani hidup ini. Aku harus menjadi panutan baginya saat ruku, sujud, mengucap salam, atau gerakan shalat lainnya. Ini juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Aku harus mampu membimbingnya menjalani hidup, belajar menapak dalam irama yang serasi dan seimbang, sambil terus menyadari bahwa menjalani hidup adalah ibadah yang tak terputuskan. Tentu saja harus ada interaksi dan saling koreksi. Bukankah dalam shalat sekalipun, seorang imam yang salah harus bersedia dikoreksi jamaahnya? Maka dalam menjalani hidup pun aku harus bersedia mendengar masukan dari isteriku, baik berupa kritik maupun saran.

Kalau mau ditarik lebih jauh lagi, maka harus dikaji sejak sebelum melakukan shalat, yaitu membersihkan diri dengan wudhu. Seorang imam yang penuh perhatian, akan memperhatikan juga cara diriya berwudhu, agar perannya sebagai imam tidak justru merugikan jamaahnya. Dalam kehidupan, aku harus memerhatikan betul status "kebersihan" rumah tangga. Bukan saja secara fisik, tapi juga secara mental dan ruhani. Misalnya saja, aku harus memerhatikan dari mana asal nafkah yang kuberikan pada isteriku. Tak bisa aku sembarangan memberikan nafkah tanpa mencermati asal usulnya. Kalau gagal, berarti aku juga gagal menjaga wudhu. Secara mental, wudhuku sudah batal, atau membuat isteriku batal wudhunya.

Setelah wudhu, yang harus disiapkan adalah kesucian tempat shalat, yang secara harfiah direpresentasikan dengan sajadah. Ini, dalam kehidupan, sama saja seperti ketika memilih tempat bergaul bagi rumah tangga kita. Seperti apa lingkungan pergaulan dan siapa kawan-kawan pilihan, aku harus mampu membimbingnya. Seperti ketika aku menyiapkan kesucian sajadah tempat kami shalat. Alhamdulillah, saat ini isterku sudah bergabung dalam liqo pekanan. Dan aku tahu, meski bukan orang-orang sempurna, tapi Insya Allah mereka, teman-teman isteriku, adalah orang-orang yang hanif dan amanah.

Hal yang sama juga berlaku untuk setiap gerakan shalat, mulai Takbiratul Ihram hingga Salam. Semua menjadi cermin bagaimana aku memimpin isteri menjalani hidup ini. Membimbingnya agar bahtera rumah tangga kami mampu terus berlayar hingga tetap dalam kondisi selamat. Harus selalu ada kesesuaian antara apa yang terjadi dalam sahalat berjamaah dengan apa yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau tidak, itu artinya shalatku hanya berhenti menjadi ritual rutin penggugur kewajiban semata. Itu berarti shalatku tidak dikerjakan dalam keadaan sadar. Padahal Allah melarang kita untuk shalat dalam keadaan tidak sadar atau mabuk.

Maka percuma aku shalat berjamaah bersama isteriku dengan khusuk kalau gagal memberi kasih sayang penuh kepadanya, sebagaimana ketika mengucapkan salam ke kanan, tempat ia duduk ketika shalat berjamaah denganku. Percuma saja shalat khusuk kalau ternyata masih tak mampu membimbing isteri dalam kehidupan sehari-hari. Percuma aku shalat dengan memulai wudhu kalau tak mampu memberi nafkah yang halal dan thayib bagi isteriku, atau gagal mendorongnya untuk mengikuti kumpulan pergaulan yang baik dengan tujuan yang baik pula, meskipun telah memilih tempat yang bersih untuk shalat. Hubungan shalat khusuk ini (pastilah) timbal balik. Artinya, aku tak akan mampu bersikap baik seperti hal-hal yang kusebutkan di atas, kalau shalatku sendiri tidak khusuk. Bukankah Allah menjanjikan bahwa shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar? Maka pastilah ada korelasi tegas antara kekhusukan saat shalat dengan keberhasilan menjalani kehidupan.

Menjadi imam shalat jamaah, terutama ketika berdua dengan isteriku, haruslah menjadi sarana yang terus mengingatkan diriku untuk mengacu pada akhlak yang baik saat menjadi seorang suami. Seperti telah diketahui, shalat adalah penghubung antara makhluk dengan Khalik. Maka shalat menjadi semacam akhlak, menjadi tata cara bersikap, bagi seorang makhluk kepada Khaliknya. Kalau aku menjadikan shalat ini menjadi cermin berperilaku sehari-hari, maka shalat adalah akhlak acuan saat aku mengimami isteriku ketika menjalani kehidupan ini. Konsekuensinya, sikapku terhadap isteriku dalam menjalani kehidupan ini, adalah bagian dari sikapku terhadap sang Pencipta. Penilaian akhlakku terhadap Allah juga ditentukan dengan akhlakku terhadap isteriku!

Menjadi imam memang tidak mudah, baik dalam shalat maupun dalam kehidupan sehari-hari. Tapi aku telah memilih peran itu, ketika mengucap ijab untuk menikah dengannya. Berjanji akan menjadi imam baginya. Dan aku bisa belajar menjalani peran itu, setiap kali aku menjadi imam shalat baginya.

Allahu'alam Bishawab

9/18/2006

Ramadhan, bulan siyam, bulan kasih sayang

Apa yang teringat setiap kali memasuki Ramadhan? Kembang api? Tarawih? Makan sahur berjama'ah? Ngbuburit? atau malam-malam penuh tangis penyesalan?

Setiap kali masuk bulan Ramadhan, aku selalu teringat lagi dengan suasana di masa kecilku di wilayah perkampungan padat penduduk di Tulodong Atas, Senayan, Kebayoran Baru. Selepas buka puasa dan shalat maghrib, dengan sarung melilit di pinggang dan uang sepuluh rupiah (Rp. 25) erat kugenggam, aku segera berlari menjumpai teman-temanku di luar. Biasanya kami main petasan, dan petasan kesukaanku adalah petasan banting. Dengan harga lima perak, aku sudah bisa memiliki dua buah bulatan putih yang jika dibanting akan meledak dengan suara memekakkan telinga. Petasan akan kami banting sambil berlari-lari ke segala arah.

Tentu saja tidak tiap malam aku membeli petasan. Yang paling sering kubeli, seingatku, adalah asinan bengkuang dan ketimun. Aku masih ingat betul rasanya, dengan kuah pedas asam manisnya. Terkadang aku juga membeli bakwan dengan kuah bumbu kacang. Kalau yang ini, aku masih suka sampai sekarang. Sisa uangnya, biasanya aku belikan es limun. Harganya sepuluh perak (Rp. 10) per botol, dan rasa kegemaranku adalah rasa jeruk. Biasanya aktifitas ini harus berhenti saat terdengar adzan Isya'. Kalau tidak, akan kena marah nantinya. Maka arena keriuhan tadi akan berpindah di masjid, hingga orang-orang dewasa akan menegur kami agar tidak terlalu ramai. Seusai tarawih, kami akan lanjutkan dengan permainan lain di sekitar masjid. Biasanya permainan yang dimainkan adalah petak kadal atau dornama (petakumpet berkelompok). Aktifitas penuh peluh ini akan berakhir menjelang pukul sepuluh malam, untuk dilanjutkan lagi setelah subuh.

Di Pondok Gede, aktifitas Ramadhan di masa kecilku tidak berbeda jauh, selain nilai dan harga barang-barang yang berubah naik. Juga setelah memiliki sepeda, karena "touring" keliling pondok Gede menjadi aktifitas lain yang menyenangkan seusai sahur dan subuh. Memang, suasana Ramadhan tak akan mungkin terlupakan oleh semua anak-anak, bahkan yang beragama selain Islam sekalipun!

Aktifitas di bulan Ramadhan ini memang berubah seiring bertambahnya umur. Tapi ada satu yang tak berubah, yaitu kebahagiaan dan kegembiraan menyambut Ramadhan, meski dengan perspektif yang berbeda.

Sekarang adalah tahun kedua aku memasuki Ramadhan bersama seorang pendamping hidup bernama isteri. Aktifitas Ramadhan pun berubah tak lagi seperti di masa kecil yang penuh tawa dan canda. Tapi tetap kebahagiaan dan kegembiraan karena Ramadhan itu tak bisa hilang. Terbayang bagaimana nanti aku menunggu isteriku mempersiapkan diri untuk shalat tarawih atau subuh (perempuan harus menyiapkan sajadah dan mukenanya), lalu berjalan berdua bergandengan tangan menuju musholla. Atau tilawah berdua sambil saling menyimak dan mengoreksi kesalahan sebelum mencari tahu tafsir ayat-ayatnya di Tafsir Fii Zhilalil Quran yang selama ini jarang kami buka. Atau menikmati siaran dakwah di radio atau televisi yang pasti akan semarak di Ramadhan. Atau bersama-sama meningkatkan pengetahuan dengan mengkaji ilmu berbekal buku-buku yang di luar Ramadhan jarang sekali tersentuh. Terbayang keindahan saat-saat menunggu maghrib bersama isteriku, ketika aku membantunya menyiapkan ta'jil (meskipun lebih tepat kalau dibilang aku mengganggunya, karena dialah yang pandai memasak, sedangkan aku hanya menemani saja di dapur). Saling menyadari dan mengingatkan dengan kesabaran bahwa Ramadhan inilah kesempatan menabung amal buat bekal di akhirat nanti.

Begitulah Ramadhan. Bulan hikmah, ampunan, sekaligus pembebasan dari api neraka. Jika dijalani dengan sungguh-sungguh, Ramadhan akan memberikan kesejukan dalam hati, kedamaian yang melingkupi jiwa, dan kesegaran hati ruhani. Bahkan anak-anak kecil pun sudah merasakan hikmah itu, kebahagiaan itu. Lihatlah binar dari mata setiap anak-anak di bulan Ramadhan, begitu indah dan cerah. Apalagi bagi orang dewasa yang sudah memahami hikmah Ramadhan. Bukankah Rasulullah Muhammad SAW telah memberikan sinyalemen, bahwa Ramadhan adalah kado bagi umat Muhammad yang berumur pendek, agar bisa menyamai tingkat amal ibadah umat-umat terdahulu yang berusia panjang. Mungkin Allah memang mencurahkan segenap kasih sayangnya di bulan Ramadhan. Dan aku sudah punya segudang rencana untuk mengisinya di tahun ini. Rencana yang akan kujalani dengan isteri tercintaku. Tentu saja aku akan mendiskusikannya terlebih dahulu. Isteriku pasti punya rencana juga, dan kami akan membuatnya harmonis dan saling menyesuaikan, hingga tak ada istilah rencana yang saling berseberangan.

Hanya ada satu kekhawatiranku, yaitu soal kambuhnya penyakit maag isteriku. Biasanya (mudah-mudahan tahun ini tidak), di awal puasa, penyakit itu akan datang pada isteriku. Kalau itu yang terjadi, aku pasti akan merasa sedih. Aku tak tahan melihat wajahnya menahan perih lambungnya, hingga kalau boleh, aku ingin menggantikannya menanggung rasa sakit itu. Jadi buat isteriku, "Tahun ini jangan sakit dan membuat suamimu sedih lagi ya?" Ya Allah, angkatlah penyakit itu dari tubuh isteriku. Tapi jika tidak bisa, maka semoga itu menjadi penggugur dosa-dosa dan kekhilafannya. Atau menjadi sarana bagiku untuk semakin mencurahkan rasa cinta dan kasih sayang padanya.