10/06/2006

soal cara curhat

Sedikit lho, orang yang bisa mengutarakan perasaan dalam tulisan lalu menyerahkannya pada dunia untuk dibaca. Apalagi kesedihan dan luka-luka hatinya. Aku juga kurang berani dalam hal ini. Masalahnya cuma satu: aku belum pandai menceritakan masalah atau kesedihanku dalam bentuk yang tidak nelangsa dan tidak membuat orang lain iba, yang tidak membuat orang jadi menyudutkan kita sebagai cengeng karena ada kata sedih atau tangis di dalamnya. Padahal, banyak orang lain (mungkin temasuk kau D ?) yang mampu menuliskan kesedihannya tanpa sedikitpun menuliskan kata sedih atau tangis di dalamnya. Contohnya tulisan ini nih:

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

Tanpa kata-kata sedih yang menimbulkan rasa iba, kita seolah-olah melihat suatu bingkai kepedihan yang dialami penulis. Sebuah lukisan pemandangan di tepi laut dengan kapal dan perahu yang diam pasrah di dermaga, tanpa gairah untuk menerjang ombak yang juga seakan telah kehilangan geloranya. Malam pun seolah datang lebih cepat memenuhi ajakan gerimis yang datang. Terdengar kelepak elang di kejauhan, yang tentu tak akan terdengar saat suasana ramai. Di tengah suasana sepi dan muram itu, si penulis berjalan seolah tanpa harapan, berjalan seorang diri sepanjang semenanjung. Mengharap kesedihan segera berakhir dan tangis yang keluar adalah sedu penghabisan. Itu yang kita tangkap. Padahal, tak ada satupun kata-kata sedih, tangis, perih, apalagi luka dan sakit hati.

Oh iya, penulis kata-kata di atas namanya chairil anwar.

Nah, ternyata ada yang bisa menulis kesedihan dan pedih hati dengan cara luar biasa seperti itu. Rasanya kepingin juga bisa nulis seperti itu. Tapi tiap orang punya hak masing-masing, ya? Kalau aku nggak bisa nulis seperti di atas, bukan berarti aku tidak boleh menuliskan perasaanku. Hanya saja, aku tidak boleh protes kalau orang lain jadi salah paham, atau keliru membuat tafsir, atau tiba-tiba menyuruhku bangun dari mimpi berkepanjangan. Kecuali jika sejak awal memang tidak dibuka peluang bagi orang lain untuk memberikan komentar.

Tanpa bermaksud menggurui, apa kau tertarik untuk bisa menulis dengan gaya seperti itu? Sehingga ketika menulis tentang kesedihan kita, pembaca akan paham bahwa kita sedang sedih, tapi tanpa tuduhan bahwa kita cengeng, tanpa tudingan bahwa kita lemah. Aku sih tertarik, tapi ternyata nggak gampang. Hasilnya masih jauh dari harapan Contohnya, waktu aku patah hati (cihuy..) dan tiba-tiba teringat dengan orang yg membuatku patah hati, aku nulis seperti ini:

Kaukah itu, yang menitipkan senyum pada mentari
merajut tirai jingga di jendela langit pagi
ketika angin merangkai udara
dan resah membingkai rasa

Apa kabar, Melati
yang pernah semi dan mekar di dasar hati ?

dst.

Kacau banget kan tuh? Makanya aku selalu tertarik kalau ada orang membuat tulisan, seperti yang ada di web kutuloncat :) . 'Kali aja aku bisa mencuri ilmunya, hehe... Nah, kalau kau punya kemampuan itu, bagi-bagi ya! Soalnya, pasti tak akan ada lagi orang menuduh kita macam-macam atau salah tanggap terhadap tulisan kita.

9/27/2006

Belajar Menjadi Suami (2)

Belajar dari Shalat

Di bulan Ramadhan, kesempatan beribadah biasanya lebih luas. Termasuk melakukan shalat berjamaah berdua dengan isteriku. Kalau biasanya hanya berkesempatan menjadi imam shalat fardlu, maka di Ramadhan kesempatan menjadi imam baginya akan bertambah. Sebut saja seperti shalat tarawih ataupun ketika Qiyamul Lail dengan tahajjud. Ini membuatku sering merenungkan arti menjadi imam bagi isteriku sendiri.

Saat aku berdiri menjadi imam shalat bagi isteriku, dimensi yang bermain bukan hanya dimensi ruhiah saja, atau sekedar menghapus kewajiban terhadap Tuhan. Saat menjadi imam shalat sebenarnya aku sedang memimpin isteriku menghadap Allah. Itu berarti memimpinnya beribadah. Nah, ibadah ini punya dimensi sangat luas. Tidak sekedar ritual rutin saja. Memimpin isteriku shalat sama saja dengan memimpinnya menjalani hidup ini. Aku harus menjadi panutan baginya saat ruku, sujud, mengucap salam, atau gerakan shalat lainnya. Ini juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Aku harus mampu membimbingnya menjalani hidup, belajar menapak dalam irama yang serasi dan seimbang, sambil terus menyadari bahwa menjalani hidup adalah ibadah yang tak terputuskan. Tentu saja harus ada interaksi dan saling koreksi. Bukankah dalam shalat sekalipun, seorang imam yang salah harus bersedia dikoreksi jamaahnya? Maka dalam menjalani hidup pun aku harus bersedia mendengar masukan dari isteriku, baik berupa kritik maupun saran.

Kalau mau ditarik lebih jauh lagi, maka harus dikaji sejak sebelum melakukan shalat, yaitu membersihkan diri dengan wudhu. Seorang imam yang penuh perhatian, akan memperhatikan juga cara diriya berwudhu, agar perannya sebagai imam tidak justru merugikan jamaahnya. Dalam kehidupan, aku harus memerhatikan betul status "kebersihan" rumah tangga. Bukan saja secara fisik, tapi juga secara mental dan ruhani. Misalnya saja, aku harus memerhatikan dari mana asal nafkah yang kuberikan pada isteriku. Tak bisa aku sembarangan memberikan nafkah tanpa mencermati asal usulnya. Kalau gagal, berarti aku juga gagal menjaga wudhu. Secara mental, wudhuku sudah batal, atau membuat isteriku batal wudhunya.

Setelah wudhu, yang harus disiapkan adalah kesucian tempat shalat, yang secara harfiah direpresentasikan dengan sajadah. Ini, dalam kehidupan, sama saja seperti ketika memilih tempat bergaul bagi rumah tangga kita. Seperti apa lingkungan pergaulan dan siapa kawan-kawan pilihan, aku harus mampu membimbingnya. Seperti ketika aku menyiapkan kesucian sajadah tempat kami shalat. Alhamdulillah, saat ini isterku sudah bergabung dalam liqo pekanan. Dan aku tahu, meski bukan orang-orang sempurna, tapi Insya Allah mereka, teman-teman isteriku, adalah orang-orang yang hanif dan amanah.

Hal yang sama juga berlaku untuk setiap gerakan shalat, mulai Takbiratul Ihram hingga Salam. Semua menjadi cermin bagaimana aku memimpin isteri menjalani hidup ini. Membimbingnya agar bahtera rumah tangga kami mampu terus berlayar hingga tetap dalam kondisi selamat. Harus selalu ada kesesuaian antara apa yang terjadi dalam sahalat berjamaah dengan apa yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau tidak, itu artinya shalatku hanya berhenti menjadi ritual rutin penggugur kewajiban semata. Itu berarti shalatku tidak dikerjakan dalam keadaan sadar. Padahal Allah melarang kita untuk shalat dalam keadaan tidak sadar atau mabuk.

Maka percuma aku shalat berjamaah bersama isteriku dengan khusuk kalau gagal memberi kasih sayang penuh kepadanya, sebagaimana ketika mengucapkan salam ke kanan, tempat ia duduk ketika shalat berjamaah denganku. Percuma saja shalat khusuk kalau ternyata masih tak mampu membimbing isteri dalam kehidupan sehari-hari. Percuma aku shalat dengan memulai wudhu kalau tak mampu memberi nafkah yang halal dan thayib bagi isteriku, atau gagal mendorongnya untuk mengikuti kumpulan pergaulan yang baik dengan tujuan yang baik pula, meskipun telah memilih tempat yang bersih untuk shalat. Hubungan shalat khusuk ini (pastilah) timbal balik. Artinya, aku tak akan mampu bersikap baik seperti hal-hal yang kusebutkan di atas, kalau shalatku sendiri tidak khusuk. Bukankah Allah menjanjikan bahwa shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar? Maka pastilah ada korelasi tegas antara kekhusukan saat shalat dengan keberhasilan menjalani kehidupan.

Menjadi imam shalat jamaah, terutama ketika berdua dengan isteriku, haruslah menjadi sarana yang terus mengingatkan diriku untuk mengacu pada akhlak yang baik saat menjadi seorang suami. Seperti telah diketahui, shalat adalah penghubung antara makhluk dengan Khalik. Maka shalat menjadi semacam akhlak, menjadi tata cara bersikap, bagi seorang makhluk kepada Khaliknya. Kalau aku menjadikan shalat ini menjadi cermin berperilaku sehari-hari, maka shalat adalah akhlak acuan saat aku mengimami isteriku ketika menjalani kehidupan ini. Konsekuensinya, sikapku terhadap isteriku dalam menjalani kehidupan ini, adalah bagian dari sikapku terhadap sang Pencipta. Penilaian akhlakku terhadap Allah juga ditentukan dengan akhlakku terhadap isteriku!

Menjadi imam memang tidak mudah, baik dalam shalat maupun dalam kehidupan sehari-hari. Tapi aku telah memilih peran itu, ketika mengucap ijab untuk menikah dengannya. Berjanji akan menjadi imam baginya. Dan aku bisa belajar menjalani peran itu, setiap kali aku menjadi imam shalat baginya.

Allahu'alam Bishawab

9/18/2006

Ramadhan, bulan siyam, bulan kasih sayang

Apa yang teringat setiap kali memasuki Ramadhan? Kembang api? Tarawih? Makan sahur berjama'ah? Ngbuburit? atau malam-malam penuh tangis penyesalan?

Setiap kali masuk bulan Ramadhan, aku selalu teringat lagi dengan suasana di masa kecilku di wilayah perkampungan padat penduduk di Tulodong Atas, Senayan, Kebayoran Baru. Selepas buka puasa dan shalat maghrib, dengan sarung melilit di pinggang dan uang sepuluh rupiah (Rp. 25) erat kugenggam, aku segera berlari menjumpai teman-temanku di luar. Biasanya kami main petasan, dan petasan kesukaanku adalah petasan banting. Dengan harga lima perak, aku sudah bisa memiliki dua buah bulatan putih yang jika dibanting akan meledak dengan suara memekakkan telinga. Petasan akan kami banting sambil berlari-lari ke segala arah.

Tentu saja tidak tiap malam aku membeli petasan. Yang paling sering kubeli, seingatku, adalah asinan bengkuang dan ketimun. Aku masih ingat betul rasanya, dengan kuah pedas asam manisnya. Terkadang aku juga membeli bakwan dengan kuah bumbu kacang. Kalau yang ini, aku masih suka sampai sekarang. Sisa uangnya, biasanya aku belikan es limun. Harganya sepuluh perak (Rp. 10) per botol, dan rasa kegemaranku adalah rasa jeruk. Biasanya aktifitas ini harus berhenti saat terdengar adzan Isya'. Kalau tidak, akan kena marah nantinya. Maka arena keriuhan tadi akan berpindah di masjid, hingga orang-orang dewasa akan menegur kami agar tidak terlalu ramai. Seusai tarawih, kami akan lanjutkan dengan permainan lain di sekitar masjid. Biasanya permainan yang dimainkan adalah petak kadal atau dornama (petakumpet berkelompok). Aktifitas penuh peluh ini akan berakhir menjelang pukul sepuluh malam, untuk dilanjutkan lagi setelah subuh.

Di Pondok Gede, aktifitas Ramadhan di masa kecilku tidak berbeda jauh, selain nilai dan harga barang-barang yang berubah naik. Juga setelah memiliki sepeda, karena "touring" keliling pondok Gede menjadi aktifitas lain yang menyenangkan seusai sahur dan subuh. Memang, suasana Ramadhan tak akan mungkin terlupakan oleh semua anak-anak, bahkan yang beragama selain Islam sekalipun!

Aktifitas di bulan Ramadhan ini memang berubah seiring bertambahnya umur. Tapi ada satu yang tak berubah, yaitu kebahagiaan dan kegembiraan menyambut Ramadhan, meski dengan perspektif yang berbeda.

Sekarang adalah tahun kedua aku memasuki Ramadhan bersama seorang pendamping hidup bernama isteri. Aktifitas Ramadhan pun berubah tak lagi seperti di masa kecil yang penuh tawa dan canda. Tapi tetap kebahagiaan dan kegembiraan karena Ramadhan itu tak bisa hilang. Terbayang bagaimana nanti aku menunggu isteriku mempersiapkan diri untuk shalat tarawih atau subuh (perempuan harus menyiapkan sajadah dan mukenanya), lalu berjalan berdua bergandengan tangan menuju musholla. Atau tilawah berdua sambil saling menyimak dan mengoreksi kesalahan sebelum mencari tahu tafsir ayat-ayatnya di Tafsir Fii Zhilalil Quran yang selama ini jarang kami buka. Atau menikmati siaran dakwah di radio atau televisi yang pasti akan semarak di Ramadhan. Atau bersama-sama meningkatkan pengetahuan dengan mengkaji ilmu berbekal buku-buku yang di luar Ramadhan jarang sekali tersentuh. Terbayang keindahan saat-saat menunggu maghrib bersama isteriku, ketika aku membantunya menyiapkan ta'jil (meskipun lebih tepat kalau dibilang aku mengganggunya, karena dialah yang pandai memasak, sedangkan aku hanya menemani saja di dapur). Saling menyadari dan mengingatkan dengan kesabaran bahwa Ramadhan inilah kesempatan menabung amal buat bekal di akhirat nanti.

Begitulah Ramadhan. Bulan hikmah, ampunan, sekaligus pembebasan dari api neraka. Jika dijalani dengan sungguh-sungguh, Ramadhan akan memberikan kesejukan dalam hati, kedamaian yang melingkupi jiwa, dan kesegaran hati ruhani. Bahkan anak-anak kecil pun sudah merasakan hikmah itu, kebahagiaan itu. Lihatlah binar dari mata setiap anak-anak di bulan Ramadhan, begitu indah dan cerah. Apalagi bagi orang dewasa yang sudah memahami hikmah Ramadhan. Bukankah Rasulullah Muhammad SAW telah memberikan sinyalemen, bahwa Ramadhan adalah kado bagi umat Muhammad yang berumur pendek, agar bisa menyamai tingkat amal ibadah umat-umat terdahulu yang berusia panjang. Mungkin Allah memang mencurahkan segenap kasih sayangnya di bulan Ramadhan. Dan aku sudah punya segudang rencana untuk mengisinya di tahun ini. Rencana yang akan kujalani dengan isteri tercintaku. Tentu saja aku akan mendiskusikannya terlebih dahulu. Isteriku pasti punya rencana juga, dan kami akan membuatnya harmonis dan saling menyesuaikan, hingga tak ada istilah rencana yang saling berseberangan.

Hanya ada satu kekhawatiranku, yaitu soal kambuhnya penyakit maag isteriku. Biasanya (mudah-mudahan tahun ini tidak), di awal puasa, penyakit itu akan datang pada isteriku. Kalau itu yang terjadi, aku pasti akan merasa sedih. Aku tak tahan melihat wajahnya menahan perih lambungnya, hingga kalau boleh, aku ingin menggantikannya menanggung rasa sakit itu. Jadi buat isteriku, "Tahun ini jangan sakit dan membuat suamimu sedih lagi ya?" Ya Allah, angkatlah penyakit itu dari tubuh isteriku. Tapi jika tidak bisa, maka semoga itu menjadi penggugur dosa-dosa dan kekhilafannya. Atau menjadi sarana bagiku untuk semakin mencurahkan rasa cinta dan kasih sayang padanya.

Surat Buat Isteriku (2)

Gambaran Surga Kita

Aku mengenalnya untuk kali pertama pada saat aku masih duduk di kelas dua SMA. Cantik, anggun, dan sanggup membuatku berkali-kali terpikat padanya. Setiap menyambanginya, aku selalu merasa sedang berada di surga. Membuatku rela mati saat itu juga. Dan setiap kali sehabis mengunjunginya, aku selalu merasakan adanya tambahan gairah dalam hidupku, menyegarkan pikiran dan suasana batinku yang seringkali jenuh dengan rutinitas kehidupan sehari-hari.

Memang butuh waktu tidak sedikit jika aku ingin menemuinya, tapi itu tak berarti apa-apa dibandingkan segala yang kudapatkan kemudian. Aku sering berlama-lama memandangi wajahnya dari segala jurusan. Menikmati hawa sejuk yang ia tawarkan, seraya mengamati awan tipis yang melambai pelan dilatari langit luas kebiruan. Atau mendengarkan kicau burung dan ricik air di kejauhan. Tak jarang kedamaian yang disuguhkan membuatku merasa amat tenang hingga terlelap di pangkuannya.

Kau sebenarnya pernah mengunjunginya, tapi tak sampai menjumpainya. Hanya berhenti di pelataran depan saja, tidak sempat meliaht rupa dan wajahnya yang teduh dan damai. Ya, Kau pernah mengunjunginya, meski tak pernah menjumpainya. Kau mungkin bertanya-tanya, siapa dia gerangan ?

Orang-orang menyebutnya Mandalawangi. Entah kenapa ia disebut seperti itu. Mungkin ada kaitannya dengan sebuah dongeng atau mitos tertentu, sebab setahuku, Mandala berarti Medan Perang, dan Wangi adalah aroma yang segar dan menyenangkan. kalau demikian halnya, Mandalawangi bisa berarti Medan Perang yang Harum. Iya nggak ? Barangkali ada mitos atau legenda yang menceritakan peperangan di sana, lalu darah yang tertumpah menjadi penyubur bagi tumbuhnya bunga-bunga Edelweiss Jawa yang khas aroma dan wanginya. Dalam buku hariannya, Soe Hok Gie tak cuma sekali menyebut kecintaannya pada Mandalawangi. Bahkan abu jenazahnya (setelah dua kali kuburnya dibongkar) juga tersebar di sana. Buku itu juga yang membuatku (ketika kelas dua SMA) penasaran dan ingin berkenalan dengannya.

Ia ada di bawah puncak gunung Pangrango, sekitar seratus meter ke arah barat, menghadap gunung Salak. Bukankah Kau pernah ke puncak gunung Pangrango, tapi belum sempat mengunjungi Mandalawangi ? Padahal amat disayangkan sekali kalau sudah tiba di puncak Pangrango tapi tidak mampir ke Mandalawangi. Di sana segala kelelahan akan sirna. Kedamaian yang kuceritakan di atas bukan omong kosong belaka. Dengarlah gemericik yang berasal dari mata air kecil di sana. Mata air yang menyampaikan kerinduan puncak-puncak gunung kepada lautan. Mata air yang terus mencari jalan pintas untuk menemui kekasihnya yang menunggu di bibir muara di pinggir laut utara. Terkadang mata air itu mengalir begitu tenang di tengah hutan, menjadi sumber kehidupan bagi segenap hewan penghuninya. Tapi ia juga sanggup menjelma menjadi jeram besar, seperti air terjun di sekitar Taman Safari di Cisarua. Air terjun tinggi yang begitu deras dan mengalir bergegas, seakan menyiratkan rasa rindu yang tak tertahankan untuk menemui keaksihnya di lautan. Kau pernah memikirkan hal itu, Sayangku? Atau hanya orang gila semacam aku saja yang sempat melamun dan berpikir akan sanggup menyelami kedalaman pikiran dari sebuah mata air kecil di puncak pegunungan?

Aku ingin mengajakmu ke sana. Berdua menikmati lembutnya sepoi angin di pagi hari. Menatap pergerakan awan yang melukis bentuk-bentuk ajaib di langit kebiruan. Atau sekedar membasuh tangan dan merasakan kesejukan mata air kecil yang kelak menjadi sungai-sungai besar di muara pantai utara pulau Jawa. Aku ingin merasakan keindahan dan kedamaian itu denganmu. Berdua kita saling menjalin cerita indah, mungkin untuk kita kisahkan kembali pada anak cucu kita kelak. (kenapa ya, hingga kini aku belum juga dipercaya Allah untuk menjadi seorang bapak?) Kau pasti akan setuju denganku tentang penggalan surga: Seolah ada sudut surga yang sengaja dilepas dan diletakkan di sana.

Entah kapan terakhir kali aku mengunjunginya. Rasanya sudah lama sekali. Dulu aku kerap mengunjunginya jika sedang merasa susah atau bosan dan ingin melepas kejenuhan. Rasa lelahku akan hilang dan semangat hidup akan kembali tumbuh sesudah aku ke sana. Tapi akankah kedamaian itu masih berdiam di sana? Sekian ribu orang yang mengununginya setiap pekan pasti menimbulkan juga pencemaran, jadi mungkin saja suasananya tak seindah seperti puisi. Namun niatku tak pernah terhapus. Aku pernah berjanji, kelak akan membawa keluargaku mengunjunginya. Bersama isteri dan anakku. Memang perjalanannya tidak semudah kalau kita pergi ke Mal atau ke pasar serpong. Tapi percayalah, di sana ada penggalan surga. Dan aku tak pernah bersedia masuk surga, kecuali bersama orang tercinta. Itu berarti dirimu, Kekasih. Sebab engkaulah yang kini menyimpan segenap harapan dan cita-cita.

9/13/2006

Bayi

Seorang rekan di kantor baru saja mendapat karunia dari Allah setelah isterinya melahirkan bayi laki-laki pertamanya. Ia membawa foto-foto anaknya tersebut untuk "diolah" di komputer kantor, karena ia akan mengirimkannya lewat email. Aku sempat melihat foto-foto tersebut. Bayi itu tampak sangat menggemaskan dengan pipi bersemu merah jambon. Matanya yang terpejam seakan menyiratkan bahwa bayi itu masih silau dengan cahaya dunia yang sangat benderang dibandingkan dengan ruang di rahim ibunya. Subhanallah. Betapa kehadiran seorang bayi, meski hanya kulihat sepintas gambar digitalnya saja, sudah mampu membuatku diliputi rasa senang. Seperti ada kesejukan yang mengalir di ruangan kantorku.

Tapi kesejukan tadi lantas berubah menjadi hawa dingin yang seolah ingin menusuk tulangku setelah aku kembali ke mejaku. Ada rasa rindu yang teramat dalam menyergapku. Seakan membekap dengan selembar rasa sunyi yang membekukan tulang dan persendian. Lagu "Bad Moon Rising" milik CCR dari winamp tak lagi sanggup memaksa kaki mengetuk-ketuk lantai seperti biasanya. Aku bagai orang asing di tengah riuhnya suara yang tak kukenali. Suwung, hampa, tak ada apa-apa lagi.

Yang melintas kemudian adalah wajah isteriku yang tanpa senyum, lalu wajah karib kerabat dan handai taulan serta teman-teman yang sering bertanya padanya, "Sudah isi belum?"

Ah, wajah-wajah itu, wajah bayi merah semu dan isteriku, telah merobek langit hatiku sendiri. Membuat kecil diri ini karena merasa tak dipercaya Sang Pencipta untuk mengemban amanah memiliki seorang bocah manusia. Rasanya leher ini terlalu lemah untuk menegakkan kepala di saat-saat seperti ini. Merampas semua nyali dan kebanggaan diri sebagai seorang suami.

"Setiap bayi ynag lahir," begitu ujar Rabrindanath Tagore, "Selalu membawa pesan yang sama, bahwa Tuhan belum bosan dengan manusia." Meskipun perilaku sebagian besar manusia begitu memuakkan dan sanggup membuat dunia porak poranda, selalu ada harapan untuk perbaikan ketika seorang bayi terlahir ke bumi. Harapan yang lahir bersama kehadiran seorang bayi itu dikirim Sang Penguasa Alam Semesta dari segala bentuk pasangan manusia. Tak peduli itu pasangan yang terjalin dari hubungan haram di luar nikah, atau dari pernikahan yang suci dan sah, atau dari pasangan orang-orang berperilaku jahat, atau dari orangtua yang salih dan dalihag, tetap saja punya peluang untuk menerima amanah perbaikan kehidupan dunia berbentuk seorang bayi.

Tak jelas benar apa kriteria pemilihan agar seseorang boleh menjadi jalan bagi lahirnya harapan baru yang mengiringi seorang bayi. Seorang koruptor dengan harta curian yang tak habis dimakan seluruh rakyat negeri ini bisa saja terpilih untuk menjadi seorang ayah. Seorang pengemis buta yang hanya mengandalkan bantuan orang lain pun, boleh menjadi perantara bagi pesan Tuhan berbentuk bayi manusia. Hanya ada satu yang jelas bagiku: aku belum memenuhi kriteria itu. Masih harus kupeluk terus rasa sepi ini, masih harus kunikmati irama hambar dalam rasa pendengan telinga, tanpa suara tangis dari bayiku sendiri.