11/06/2007

Selamat Ulang Tahun

: Lilis Sofiani

bisik apa yang kau nantikan
sebelum kabar berduyun datang dari televisi dan radio?
tentang kelud yang malu-malu kucing,
atau perusak hutan yang divonis bebas,
atau kabel dan rel kereta yang dicuri lagi,
atau lagu usang yang mengancam negri jiran,
atau tentang ancaman banjir di awal musim?

bisik apa yang kau nantikan,
ketika adzan pertama telah berlalu
dan aku kembali terlelap di dekapmu?
setiap embun yang singgah di sudut matamu
membiaskan kasih yang tak henti membasuh
luka di dadaku yang tak juga sembuh.

bisik apa yang kau nantikan
dari mulut kotor ini
yang sehari-hari kau dengar tinggi suaranya
yang ketika malam tadi aku terjaga
dan diam-diam meninggalkan jejak kecupan di keningmu?
kau tersenyum tanpa sadar
mata damai terpejam.
mungkin kau sedang mengembara ke negri impian
atau sedang berbincang dengan nurani
yang sugguh tak mampu kulukis bening jernihnya.

maka sebelum datang kabar,
sebelum lenyap mimpi,
sebelum terbit fajar,
sebelum luruh embun pagi,
kutuliskan lagi keindahanmu di senyap dini hari
: selamat ulang tahun
semoga segalanya
tetap indah selamanya.

6 November 2007

11/05/2007

Just Another Sunday

Setidaknya satu kali dalam sebulan, aku dan istriku menjadwalkan untuk makan siang di luar. Menu bukan hal penting. Kadang cuma makan ketoprak atau makan soto mie bogor. Yang penting: bisa berduaan selama makan siang. Soalnya, di hari-hari lain, saya 'kan makan siang di kantor. Jadi istri saya agak-agak maksa untuk menyediakan waktu khusus buat makan siang di luar, setidaknya satu kali dalam sebulan. Begitu juga hari Minggu kemarin.

Setelah sempat balik lagi ke rumah karena titik air mulai turun dan kami lupa mengangkat jemuran (pak Satpam sempat ber"kuluk-kuluk" saat melihat kami balik kanan), kami berjalan kaki lagi menuju area Taman Jajan yang lokasinya nggak jauh dari rumah. Ada banyak pilihan menu di sana. Saat itu langit sudah gelap dan angin bertiup memberi kesejukkan. Aroma hujan mulai tercium di udara bercampur aroma aneka masakan dari stand-stand di Taman Jajan. Tampaknya hujan akan segera turun.

Betul juga. Ketika kami sedang asyik makan, hujan turun dengan deras. Melihat susunan awan (sok belagu jadi peramal cuaca kayak pakar BMG), sepertinya hujan akan berlangsung lama. Maka daripada kelamaan menunggu, selesai makan kami putuskan untuk pulang di tengah guyuran hujan. Payung yang hanya satu ternyata tak cukup melindungi tubuh kami secara utuh. Apalagi, di tengah perjalanan hujan mendadak semakin deras. Biarpun sudah memeluk bahu istri, tapi tetap saja tubuh kami terkena terpaan air.

Tiba di rumah, separuh tubuh kami basah. Waduh... Harus segera ganti pakaian dong, biar nggak masuk angin. Tapi, masa' siy, keujanan dikit aja udah masuk angin. Istriku juga dulu sering kehujanan saat naik gunung dan keluar masuk hutan. Apa iya tubuh kami seringkih itu? Mengenakan pakaian basah beberapa menit, pasti nggak akan berpengaruh banyak buat kesehatan tubuh kami.

Maka, selagi berganti pakaian, kami putuskan hal ini: hujan-hujanan di area open air yang ada di belakang rumah dan terlindungi tembok tinggi di sekelilingnya. Iya! Bersenang-senang berduaan di bawah siraman air hujan. Huehehe... Kenapa enggak? Di rumah cuma ada kami berdua. Soal masuk angin, bisa dicegah dengan bilasan air hangat nantinya. Asyiik, bisa melampiaskan kerinduan pada hujan-hujanan di masa kecil dulu. (apa kami cuma hujan-hujanan ajah? wah, itu siy, rahasia.... maaf, buat yang belom nikah atau sedang sendirian, jangan iri, ye.... ).

Jadi inget lagunya The Police:

Do I have to tell the story
Of a thousand rainy days since we first met
It's a big enough umbrella
But it's always me that ends up getting wet

10/10/2007

Idul Fitri



9/26/2007

Mencari Seribu Bulan

1.

tinggal bercak lama
pada wajah
ketika sujud menjelma
serata tanah

2.

bagaimana lumpur tanah
bisa mencapai bulan
pemilik sempurna wajah?

maka wajah ini
hanya merasakan lumpur
saat air dan sujud diri
bercampur

3.

mencari seribu bulan
barangkali hanya satu
antara tanah dan wajahku

maka lumpur ditelan rindu
dalam sesak rongga dadaku

seperti bertahun-tahun lalu kau sapa aku
di tengah beranda rumahmu
seperti berabad-abad lalu kau usir aku
di tengah limpahan cintamu

mencari seribu bulan:
barangkali bukan seribu

barangkali hanya satu
antara tanah, wajahku, dan cintamu

Ramadhan 1428 H

9/04/2007

Marhaban Ramadhan

Kesibukan menjelang bulan Ramadhan selalu mengasyikkan. Yang paling dekat, tentu saja mempersiapkan tahrib. Membuat acara untuk ikut mengingatkan teman-teman dan tetangga, bahwa Ramadhan ini bisa menjadi momen yang bagus untuk memperbaiki diri. Memang, upaya memperbaiki diri harus selalu dilakukan sepanajang usia, kapan saja. Tapi hal itu akan berbeda dan menjadi lebih mudah jika dilakukan bersama-sama. Untuk tahrib (penyambutan) biasanya siy, diadakan pawai keliling lingkungan tempat tinggal sambil membagi-bagikan jadwal imsakiyah (jadwal waktu shalat).

Demikian juga di rumah kami. Aku dan istriku juga sudah bersiap-siap menyambut bulan suci ini. Segala keperluan yang biasa dilakukan orang-orang menjelang lebaran, sengaja kami lakukan sebelum bulan puasa tiba. Supaya di bulan suci, kami benar-benar bisa berkonsentrasi ibadah. Tak lagi dipusingkan untuk membeli ini-itu, seperti yang biasa dilakukan orang kebanyakan. Maka sebelum bulan Ramadhan tiba, semua hadiah buat kerabat dan sanak famili sudah kami beli. Kegiatan yang tersisa tinggallah kegiatan amal jama'i dan berkaitan dengan ibadah, seperti membuat hidangan buka puasa bagi orang-orang kurang mampu, acara buka puasa bersama anak yatim, dan kegiatan jamaah lainnya. Nggak ada lagi kegiatan beli selusin baju atau sarung di tanah abang.

Marhaban ya Ramadhan. Selamat datang bulan Ramadhan.