9/13/2006

Bayi

Seorang rekan di kantor baru saja mendapat karunia dari Allah setelah isterinya melahirkan bayi laki-laki pertamanya. Ia membawa foto-foto anaknya tersebut untuk "diolah" di komputer kantor, karena ia akan mengirimkannya lewat email. Aku sempat melihat foto-foto tersebut. Bayi itu tampak sangat menggemaskan dengan pipi bersemu merah jambon. Matanya yang terpejam seakan menyiratkan bahwa bayi itu masih silau dengan cahaya dunia yang sangat benderang dibandingkan dengan ruang di rahim ibunya. Subhanallah. Betapa kehadiran seorang bayi, meski hanya kulihat sepintas gambar digitalnya saja, sudah mampu membuatku diliputi rasa senang. Seperti ada kesejukan yang mengalir di ruangan kantorku.

Tapi kesejukan tadi lantas berubah menjadi hawa dingin yang seolah ingin menusuk tulangku setelah aku kembali ke mejaku. Ada rasa rindu yang teramat dalam menyergapku. Seakan membekap dengan selembar rasa sunyi yang membekukan tulang dan persendian. Lagu "Bad Moon Rising" milik CCR dari winamp tak lagi sanggup memaksa kaki mengetuk-ketuk lantai seperti biasanya. Aku bagai orang asing di tengah riuhnya suara yang tak kukenali. Suwung, hampa, tak ada apa-apa lagi.

Yang melintas kemudian adalah wajah isteriku yang tanpa senyum, lalu wajah karib kerabat dan handai taulan serta teman-teman yang sering bertanya padanya, "Sudah isi belum?"

Ah, wajah-wajah itu, wajah bayi merah semu dan isteriku, telah merobek langit hatiku sendiri. Membuat kecil diri ini karena merasa tak dipercaya Sang Pencipta untuk mengemban amanah memiliki seorang bocah manusia. Rasanya leher ini terlalu lemah untuk menegakkan kepala di saat-saat seperti ini. Merampas semua nyali dan kebanggaan diri sebagai seorang suami.

"Setiap bayi ynag lahir," begitu ujar Rabrindanath Tagore, "Selalu membawa pesan yang sama, bahwa Tuhan belum bosan dengan manusia." Meskipun perilaku sebagian besar manusia begitu memuakkan dan sanggup membuat dunia porak poranda, selalu ada harapan untuk perbaikan ketika seorang bayi terlahir ke bumi. Harapan yang lahir bersama kehadiran seorang bayi itu dikirim Sang Penguasa Alam Semesta dari segala bentuk pasangan manusia. Tak peduli itu pasangan yang terjalin dari hubungan haram di luar nikah, atau dari pernikahan yang suci dan sah, atau dari pasangan orang-orang berperilaku jahat, atau dari orangtua yang salih dan dalihag, tetap saja punya peluang untuk menerima amanah perbaikan kehidupan dunia berbentuk seorang bayi.

Tak jelas benar apa kriteria pemilihan agar seseorang boleh menjadi jalan bagi lahirnya harapan baru yang mengiringi seorang bayi. Seorang koruptor dengan harta curian yang tak habis dimakan seluruh rakyat negeri ini bisa saja terpilih untuk menjadi seorang ayah. Seorang pengemis buta yang hanya mengandalkan bantuan orang lain pun, boleh menjadi perantara bagi pesan Tuhan berbentuk bayi manusia. Hanya ada satu yang jelas bagiku: aku belum memenuhi kriteria itu. Masih harus kupeluk terus rasa sepi ini, masih harus kunikmati irama hambar dalam rasa pendengan telinga, tanpa suara tangis dari bayiku sendiri.

9/08/2006

Belajar Menjadi Suami (1)

Arswendo pernah menulis "Pelajaran Pertama Calon Ayah". Judul ini berkesan bagiku. Tema yang dalam kalimat itulah yang terpikir saat aku mencari pengganti judul blog ini. Kenapa blog ini harus diganti judulnya? Kenapa harus memakai judul "Belajar Menjadi Suami? Begini ceritanya.

Semula blog ini berjudul "ar... ...di on the blog". Kemudian karena isinya lebih banyak menceritakan perihal kami berdua, yaitu aku dan isteriku, maka kuganti saja menjadi "arief - lilis on the blog". Harapanku, isteriku juga mau ikutan menulis di blog ini. Tapi ternyata isteriku masih malu-malu untuk menulis. Mungkin ketiadaan koneksi internet di rumah menjadi salah satu kendala juga. Di samping itu, isteriku ternyata keberatan dengan salah satu tulisanku dan memintaku untuk menghapusnya). Tentu saja aku merasa mendapat pukulan, terpukul, dan kecil hati. Seolah ada yang menunjukku sambil berseru, "Ada yang salah dengan Blog ini !"
Lalu aku coba melakukan koreksi. Kucari, kuteliti, dan kupelajari tiap kata yang kutulis di blog ini. Sampai aku mendapatkan satu kesimpulan: aku belum menjadi suami yang ideal bagi dirinya. Masih perlu melakukan pembelajaran diri. Memang aku sudah menjadi suami, tapi kini aku berpikir bahwa menjadi suami adalah proses belajar. Kalau begitu, judul blog ini lagi-lagi harus diganti. Aku ingin judul yang bisa mewakili kondisi sekaligus semangatku saat ini. Kemudian terlintaslah judul buku tadi (judulnya saja, bukan isinya!). Barangkali karena aku belum punya anak dan masih berstatus calon ayah. Lagipula semangatnya sekarang adalah semangat belajar untuk menjadi suami yang baik bagi isteriku. Maka kupilih saja judul "Belajar Menjadi Suami".

Mungkin kau anggap terlalu mengada-ada paparanku ini, tapi aku merasa judul itu lumayan enak di dengar di telinga. Tadinya aku ingin membuat "belajar menjadi ayah". Tapi karena belum punya anak, maka judul itu rasanya belum pas. Memang kalau "belajar menjadi suami" akan ada kesan bahwa aku belum menjadi suami. Namun kemungkinan itu aku kesampingkan saja. Sebab memang suami itu bukan status, melainkan proses untuk menjadi sesuatu, yaitu suami ideal.

Nah, semoga saja setelah mendapat pelajaran karena kritik isteriku, dan dengan niat dan semangat (serta cara pandang) yang baru untuk jadi suami, aku tak perlu mengganti judul blogku lagi suatu saat nanti.

9/05/2006

Lumpur

Perusahaan pengeboran penantangnya, dan lumpur panas sang jagoannya. Keduanya beradu kekuatan. Yang satu didukung sumber finansial yang sangat besar, sementara yang lain didukung satu kekuatan: kekuatan alam. Hingga kini skor sudah 3 : 0. Pertandingan belum berakhir.

Sejak hampir empat bulan lalu, di area pengeboran milik mereka, ada semburan lumpur panas yang hingga kini tak juga usai. Rata-rata volume lumpur yang keluar adalah 50.000 meter kubik. Sudah 200-1n hektar area yang tergenang meski telah dibuat tanggul penahan hingga setinggi 10 meter. 3 upaya teknik sudah dilakukan dengan hasil yang sama: lumpur masih muncrat, genangan makin luas dan tinggi. Lalu, apa arti angka-angka dan kenyataan yang lahir di atas?

Ada beberapa gosip (dan mungkin ejekan) tentang sebuah keluarga yang memiliki perusahaan pengeboran itu. Konon, salah seorang anggota keluarga pengusaha itu baru saja menang judi bola milyaran rupiah, sebelum perang tanding itu kemudian bergulir. Lumpur yang muncrat mungkin malaikat utusan tuhan untuk sekedar memberi tahu pada si pemenang taruhan, bahwa uang judi tidak halal. Bahwa segala hal yang diperoleh secara instant akan segera lenyap menguap. Juga ada selentingan kabar bahwa malaikat itu memilih area yang kini seperti lautan lumpur itu karena di sana ada pabrik minuman keras. Lumpur yang menelan pabrik itu adalah malaikat utusan tuhan untuk memberitahu pada pengelola pabrik bahwa minuman keras adalah haram dan semua usaha yang membuat orang lain lupa diri dan mabuk, bisa mendapat ganjaran sangat keras.

Lalu, apa hubungannya dengan kita? Bisa jadi kita juga sedang didatangi malaikat utusan tuhan untuk memberi peringatan tentang kesalahan kita selama ini. Bentuknya mungkin bukan lumpur yang luapannya tak juga bisa ditahan. Mungkin bentuknya adalah musibah-musibah kecil dan kesialan yang kita alami sehari-hari. Lalu apa kita lebih suci daripada masyarakat di sekitar luapan lumpur? Tidak ada jaminan untuk itu. Kalau kita belum juga didatangi lumpur hingga kini, itu karena tuhan masih bersabar terhadap kita. Lagipula, cepat atau lambat jasad kita kelak akan masuk liang lahat, menyatu dengan tanah dan cacing-cacing. Kita hanya sedang diuji, apakah kita menyadari keberadaan lumpur dalam diri kita.

Allahu'alam

Say it with Flowers

Pernah mengamati bunga? Iya, bunga yang menjadi bagian dari tumbuhan, bukan bunga dalam arti kiasan semacam bunga riba atau bunga tabungan. Pernah memperhatikan mereka, tak sekedar melihat sepintas saja, tapi mengamati dengan sungguh-sungguh bentuk, rupa, dan warnanya?

Nah, di halaman rumah tempat aku tinggal tumbuh banyak jenis bunga. Yang terbanyak dari jenis anggrek. Jenis lainya aku tak hafal namanya. Tapi ternyata aku tak sanggup menyebutkan namanya satu persatu. Anggrek yang berjenis-jenis itu cukup aku sebut sebagai: anggrek. Kenyataan ini membuktikan bahwa aku juga jarang mengamati bunga. Nah, kalau aku sendiri tak tahu apa-apa tentang bunga, lantas kenapa aku posting catatan ini? Begini ceritanya.
Ternyata, setelah aku baca-baca di beberapa situs internet, tiap jenis bunga punya makna simbolis tersendiri, terutama di kalangan masyarakat Barat. Contohnya saja bunga mawar merah melambangkan "hasrat cinta yang membara". Lalu ada mawar kuning yang berarti "sedang sendiri". Masih banyak arti bunga yang lain yang tak lagi aku ingat satu per satu. Asosiasi ini sering dipakai untuk memanfaatkan bunga sebagai sarana menyampaikan sesuatu. "Say it with flowers" begitu pameo yang sering kita dengar. Termasuk yang pernah memanfaatkan bunga ini untuk "say it with flowers" adalah diriku.

Kali pertama aku mengatakan sesuatu dengan bunga adalah ketika isteriku wisuda di kampus STT Telkom tahun 2003. Sebenarnya aku sedang di Malang saat itu. Aku memanfaatkan kebaikan hati Wied untuk membelikannya untukku sekaligus mengirimkan ke alamat isteriku di Bandung. Tentu saja kebodohanku membuat ucapan selamat hanya terkirim lewat secarik kertas, bukan tersampaikan secara simbolis lewat jenis bunganya. Sebab aku memang tak tahu jenis bunga dan makna simbolisnya. Kali kedua, adalah ketika isteriku ulang tahun, bulan november 2005. Ini juga ada cerita tersendiri.

Saat itu, aku baru setahun tinggal di Tangerang. Aku tak tahu peta, lokasi dan tempat-tempat penjualan bunga di Serpong. Tapi aku ingat bahwa di daerah Pasar Lama Tangerang (satu jam naik angkot dari rumah) ada kios florist. Sehari sebelum ulang tahun isteriku, aku sudah hunting bunga mawar. Tentu saja aku tak mengatakan dengan jujur ketika isteriku menanyakan aku mau ke mana. Sebab aku ingin bikin kejutan dengan meletakkan bunga dan sehelai puisi di kamar besok pagi tanpa sepengetahuan isteriku.

Maka aku membawa bunga dengan hati-hati agar tidak rusak, lalu meletakkan di bawah tempat tidur. Aku menyiapkan segelas air sebagai vas bunga agar mereka tak layu besok pagi dan berupaya sekuat tenaga agar mereka tak terlihat oleh isteriku hingga besok pagi. Lalu aku memikirkan kata-kata yang akan kurangkai menjadi puisi (yang ternyata baru bisa kutuliskan esok paginya).

Keesokan harinya, senua berjalan sesuai rencana. Walaupun aku tak tahu arti simbolis dari bunga yang aku berikan, tapi isteriku sepertinya senang dengan kado kecilku itu. Sebenarnya aku tak tahu apa asosiasi orang terhadap bunga mawar merah muda. Tapi kalau kita amati, bentuknya memang indah ditambah dengan warna jambonnya yang menyiratkan kesegaran. Aku sih berharap, mawar jambon itu akan sampai ke benak isteriku dalam bentuk pesan: "Rasa sayangku padanya selalu aku segarkan kembali, sesegar warna merah muda pada mawar yang aku berikan padanya." Aku tak peduli jika ternyata orang lain (terutama orang barat) punya asosiasi yang berbeda dengan anggapanku tentang mawar merah muda ini. Biarlah dia tahu bahwa puisi dan bunga yang aku berikan mewakili sebagian perasaanku padanya. Memang tak mungkin dua hal tadi mewakili seluruhnya, sebab cinta memang wilayah tanpa kata. Tapi setidaknya dia percaya, bahwa aku sungguh-sungguh mencintainya.

9/04/2006

Skenario Menghadapi Kematian

Minggu malam aku dan istriku mengikuti pengajian bulanan di Mushola al Hidayah, sektor 1.3 BSD. Temanya sama dengan judul tulisan ini. Pemmbawa materinya Ust. Limpad dari LMT Trustco.

Acaranya cukup menarik, meskipun ada gangguan di sana sini dari anak-anak kecil yang terus berlarian sepanjang acara. Apalagi menjelang bulan Ramadhan, acara ini bisa menjadi sarana Muhasabah. Kita diingatkan lagi bahwa kematian bisa datang kapan saja dan tiap orang diwajibkan oleh Allah untuk menyiapkan dirinya masing-masing untuk membawa bekal bagi kehidupan sesudah mati. Bukankah Ramadhan juga bulan muhasabah? (man shama ramadhana imanan wahtisaban...)

Dalam acara itu, Ustadz Limpad mengajak peserta membuat skenario berupa perkiraan rentang umur yang diharapkan masih tersisa. Misalkan, si A diminta menyebutkan umur berapa dia merasa akan siap untuk mati. Lalu dihitung dari usianya sekarang, berapa tahun yang masih tersisa. Kemudian si A bisa melakukan perencanaan untuk mengisi tahun yang tersisa sebelum dia mati dan menghitung apakah sisa waktu yang ada akan mencukupi bagi pengumpulan bekal amal bagi akhirat nanti.

Ini memang bukan upaya mendahului takdir Allah, karena kematian bisa saja datang nanti sore. Ini cuma mengingatkan bahwa kita butuh bekal untuk bisa selamat di akhirat dengan cara membuat rencana-rencana sesuai usia hidup yang kita perkirakan masih tersisa. Tentu saja rencana bisa meleset dan kita mengalami kegagalan. Tapi justru itu masalahnya: dengan membuat rencana saja kita masih bisa gagal apalagi jika tidak punya rencana!!!

Yang menarik meman pada saat Ustadz Limpad bertanya pada seorang peserta, "Umur berapa Anda siap mati?" Pertanyaan ini kemudian bergulir kepada keluarganya, apakah menurut mereka si A ini sudah siap jika mati di usia seperti yang telah disebutkan tadi.

Jujur saja, aku sendiri pasti akan tercenung kalau ditanya, "Umur berapa Anda siap mati?" Karena kita memang tidak tahu, apakah saat itu kita sedang dalam berada di jalan kebaikan hingga meraih khusnul khotimah atau sedang bermaksiat kepada Allah? Pertanyaan ini harusnya mampu membuat orang tersadar untuk menyiapkan bekal amal, bahwa segala yang ada di dunia ini akan kita tinggal.

Allahu'alam